Dampak Letusan Toba Ternyata Singkat, Gangguan Iklim Utama Hanya 18 Bulan

Letusan raksasa Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu diduga hanya mengganggu iklim regional Afrika Timur selama sekitar 18 bulan. Temuan ini menantang anggapan lama bahwa erupsi pembentuk Danau Toba memicu musim dingin vulkanik berkepanjangan.

Ekosistem Danau Chala di perbatasan Kenya dan Tanzania disebut kembali mendekati kondisi normal pada tahun ketiga setelah erupsi. Pendinginan regional yang terdeteksi juga hanya sekitar 0,5 derajat Celsius.

Catatan Sedimen Mengubah Gambaran Dampak

Tim ilmuwan dari Jerman menelusuri jejak erupsi melalui sedimen tahunan di dasar Danau Chala. Lapisan endapan tersebut dapat dibaca dari tahun ke tahun, menyerupai pola cincin pada batang pohon.

Para peneliti memeriksa sekitar 450 tahun endapan yang mencakup periode sebelum dan sesudah letusan. Analisis dilakukan menggunakan citra mikroskop, pemindaian kimia, pembacaan isotop, serta penghitungan populasi diatom setiap dua hingga tiga tahun.

Jejak abu Toba tidak tampak langsung pada sedimen danau tersebut. Tim menemukannya melalui pecahan kaca mikroskopis dari magma yang terlontar saat erupsi.

AspekTemuanKeterangan
Waktu letusanSekitar 74.000 tahun laluDiperkirakan terjadi pada Januari atau Februari
Durasi erupsiSekitar dua mingguMemuntahkan ribuan kilometer kubik magma
Dampak utamaSekitar 18 bulanEkosistem Danau Chala pulih pada tahun ketiga
Pendinginan regionalSekitar 0,5 derajat CelsiusBerdasarkan analisis sedimen

Diatom Menjadi Penanda Langit yang Meredup

Perubahan paling mencolok setelah erupsi terlihat pada diatom, organisme air yang membutuhkan cahaya untuk tumbuh. Menurut laporan CNBC Indonesia, respons organisme ini mengindikasikan adanya tekanan akibat langit yang meredup oleh material vulkanik di atmosfer.

Jinheum Park, ahli geosains dari Johannes Gutenberg University Mainz, menyatakan lapisan hijau dalam sedimen diduga berkaitan dengan respons stres diatom. Ia mengatakan, “Kami menduga lapisan hijau itu berasal dari diatom sebagai respons stres terhadap langit yang meredup, karena mereka membutuhkan cahaya untuk tumbuh.”

Musim kering pertama setelah letusan juga memicu ledakan populasi diatom di Danau Chala. Kondisi itu kemungkinan terkait dengan pendinginan suhu permukaan danau.

Berada dalam Kisaran Perubahan Alami

Pengukuran rasio silikon terhadap aluminium serta mangan terhadap besi menunjukkan adanya penurunan suhu dan kondisi lebih kering. Namun, skala perubahan tersebut dinilai tidak melampaui variasi alami pada masa siklus glasial dan interglasial.

Park menyatakan dampak pendinginan dan pengeringan pascaerupsi jauh lebih kecil daripada dugaan sebelumnya. “Studi kami menunjukkan bahwa besarnya pendinginan dan pengeringan setelah Toba jauh lebih kecil dan masih berada dalam kisaran variasi alami selama siklus glasial dan interglasial,” ujarnya.

Afrika Timur pada masa itu memang sedang bergerak menuju kondisi yang lebih dingin dan kering secara alami. Karena itu, sinyal perubahan yang tercatat di Danau Chala tidak menunjukkan gangguan yang cukup besar untuk mengancam keberlangsungan manusia secara signifikan.

Erupsi Tetap Termasuk yang Terbesar

Besarnya letusan tidak berubah dalam catatan geologi, karena Gunung Toba memuntahkan ribuan kilometer kubik magma selama sekitar dua minggu. Erupsi ini disebut sebagai letusan vulkanik terbesar dalam 2,6 juta tahun terakhir dan skalanya diperkirakan sekitar 1.000 kali letusan Pinatubo pada 1991.

Letusan besar dapat melepaskan sulfur dioksida ke stratosfer yang kemudian membentuk aerosol sulfat pemantul sinar Matahari. Mekanisme itu berpotensi menurunkan suhu serta mengganggu pola hujan, tetapi besarnya pengaruh sangat bergantung pada jumlah sulfur yang dilepaskan.

Hasil dari Danau Chala belum dapat digunakan sebagai gambaran respons iklim global karena hanya merekam satu wilayah utama di Afrika Timur. Penelitian serupa di lokasi lain yang menyimpan abu Toba diperlukan untuk menguji dampak erupsi ini di kawasan yang lebih luas.

Baca Juga