Batu Saluran Kemih Tak Selalu Dioperasi, Tetapi Sumbatan Bisa Mengancam Ginjal

Batu saluran kemih tidak selalu harus ditangani dengan operasi terbuka. Pilihan terapi kini dapat disesuaikan dengan ukuran dan lokasi batu, tetapi tindakan tidak boleh ditunda bila sudah terjadi sumbatan, infeksi, atau nyeri yang berulang.

Penundaan penanganan pada batu yang menghambat aliran urine dapat membawa risiko serius. Kondisi tersebut berpotensi memicu infeksi berat, mengganggu fungsi ginjal, hingga meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.

Pada batu berukuran kecil, dokter dapat memberikan pengobatan untuk membantu batu keluar secara alami. Namun, batu berukuran besar atau batu yang menimbulkan keluhan berat dapat memerlukan prosedur aktif.

Teknik penanganan yang dipilih bergantung pada kondisi klinis setiap pasien. Pemeriksaan ukuran, posisi, dan karakter batu diperlukan sebelum dokter menentukan prosedur yang paling sesuai.

ProsedurMetodePeruntukan
SWL/ESWLGelombang kejut untuk memecah batu tanpa sayatanPemecahan batu
URSLaser melalui saluran kemihTanpa luka pada kulit
RIRSLaser melalui saluran kemihTanpa luka pada kulit
PCNL atau Mini-PCNLPenanganan melalui sayatan sangat kecilBatu ginjal berukuran besar

Dalam media gathering Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih, dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, membahas perkembangan teknologi endourologi. Salah satunya ialah Thulium Fibre Laser yang disebut dapat menghancurkan batu lebih efektif dengan waktu tindakan lebih singkat.

Sistem suction modern selama prosedur juga dapat membantu menurunkan risiko infeksi. Pendekatan ini ditujukan untuk mendukung pemulihan pasien setelah tindakan.

Nyeri Mendadak Menjadi Tanda yang Khas

Meski pilihan terapi semakin beragam, gejala awal tetap perlu dikenali. Nyeri pinggang yang datang tiba-tiba dan sangat hebat merupakan keluhan khas batu saluran kemih.

Rasa sakit dapat menjalar menuju perut bawah, selangkangan, atau alat kelamin. Intensitas nyeri dapat sangat kuat dan kerap disamakan dengan nyeri persalinan.

Gejala lain yang dapat muncul meliputi mual, muntah, sakit saat buang air kecil, serta urine bercampur darah. Demam dapat menandakan batu telah disertai infeksi.

Tidak semua batu menimbulkan gejala. Pada sebagian orang, kondisi ini baru diketahui ketika pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin.

USG dan NCCT Membantu Menentukan Terapi

USG umumnya dipakai sebagai pemeriksaan awal untuk menilai kemungkinan adanya batu. Dokter dapat melanjutkan pemeriksaan dengan Non-Contrast CT Scan atau NCCT bila diperlukan detail yang lebih lengkap.

NCCT dapat menunjukkan ukuran, lokasi, dan karakteristik batu secara rinci. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan apakah pasien memerlukan pengobatan, pemecahan batu, atau tindakan lain.

PemeriksaanFungsi
USGPemeriksaan awal untuk melihat kemungkinan batu
NCCTMenilai ukuran, lokasi, dan karakteristik batu

Pencegahan Tetap Dibutuhkan Setelah Batu Diangkat

Batu saluran kemih terbentuk dari endapan mineral di ginjal atau saluran kemih. Kurang minum air putih, gangguan metabolisme, pola makan tertentu, infeksi, dan faktor genetik dapat berkaitan dengan pembentukannya.

Risiko juga meningkat pada laki-laki, terutama usia produktif 40–50 tahun. Obesitas, gaya hidup sedentari, serta tinggal di daerah beriklim panas turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Pengangkatan batu tidak menghapus kemungkinan kekambuhan. Evaluasi penyebab pembentukan batu dapat membantu pasien menjalankan pencegahan yang lebih tepat.

Dr. Teguh menyarankan konsumsi air putih yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengurangi garam berlebih, dan menerapkan pola makan seimbang. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi peluang batu terbentuk kembali serta menekan komplikasi melalui diagnosis dan penanganan yang tepat.

Baca Juga