Ancaman Gangguan Bab el-Mandeb Dorong Minyak Naik, APBN Kini Disimulasikan Ulang

Kekhawatiran gangguan pelayaran di Bab el-Mandeb mendorong pasar memperhitungkan risiko terhadap pasokan minyak global. Situasi tersebut mengangkat harga Brent hingga sempat menembus US$ 100 per barel dan membuat pemerintah menyiapkan simulasi baru bagi APBN.

Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghitung dampak anggaran pada beberapa skenario harga minyak. Pemerintah ingin melihat kesiapan keuangan negara bila gejolak energi berlangsung pada level yang berbeda.

Jalur Pengiriman Minyak yang Dipantau Pasar

Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Jalur ini disebut sebagai rute pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.

Kekhawatiran serangan dapat menutup rute tersebut memicu perhatian terhadap kemungkinan hambatan pasokan dan distribusi. Sentimen geopolitik juga menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan.

Risiko pada pelayaran menjadi salah satu latar lonjakan harga minyak dunia. Pemerintah kemudian memperbarui perhitungan untuk menilai konsekuensinya terhadap anggaran negara.

Brent Sempat Kembali di Atas US$ 100

Brent melonjak 7% pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) dan ditutup di atas US$ 100 per barel. Ini menjadi kali pertama harga Brent melampaui level tersebut sejak Mei.

Pada Jumat (24/7/2026), harga minyak terkoreksi, tetapi masih menunjukkan potensi penguatan secara mingguan. Data Reuters yang dikutip finance.detik.com mencatat pergerakan Brent dan WTI sebagai berikut.

Jenis MinyakHarga JumatPerubahan HarianKenaikan Mingguan
BrentUS$ 99,97 per barelTurun 72 sen atau 0,72%Berpotensi 13,5%
WTIUS$ 91,49 per barelTurun 70 sen atau 0,76%Berpotensi 10,9%

Brent turun 72 sen atau 0,72% menjadi US$ 99,97 per barel pada perdagangan Jumat. Meski melemah dalam sehari, kontrak tersebut masih berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 13,5%.

WTI juga turun 70 sen atau 0,76% menjadi US$ 91,49 per barel. Namun, minyak acuan Amerika Serikat itu masih berpotensi membukukan penguatan mingguan 10,9%.

Penghitungan APBN Diperluas

Kementerian Keuangan sebelumnya telah membuat penghitungan dengan asumsi harga minyak US$ 100 per barel. Presiden meminta skenario itu diperluas agar tidak terpaku pada satu angka.

Menurut Purbaya, simulasi sedang dikerjakan untuk melihat bentuk anggaran apabila harga minyak bergerak pada berbagai level. Langkah itu menempatkan simulasi APBN sebagai bagian penting dari respons pemerintah terhadap volatilitas pasar.

“Kemarin waktu di rapat kabinet Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda, bukan US$ 100 aja atau lebih. Jadi gimana anggarannya, kita sedang hitung tadi,” kata Purbaya di Jakarta Pusat, Jumat.

Di tengah penyusunan simulasi tersebut, pemerintah menyatakan harga BBM subsidi belum akan naik. Purbaya menegaskan perlindungan terhadap bahan bakar bersubsidi tetap dijaga.

“Kalau yang subsidi akan kita jaga terus,” ujar Purbaya. Pemerintah kini menunggu hasil perhitungan sejumlah skenario harga minyak untuk menggambarkan kondisi anggaran apabila tekanan pasar energi berlanjut.

Baca Juga