Pemantauan langsung Jean-Paul van Gastel dan latihan khusus bersama Mario Capece membuka jalan Athaullah Daib menuju tim senior PSIM Yogyakarta. Kiper berusia 16 tahun asal Gunungkidul itu akan bergabung dalam sesi latihan skuad utama pada musim depan.
Keputusan ini didasarkan pada penilaian tim pelatih terhadap kemampuan Daib selama menjalani latihan. PSIM melihat peluang untuk mengembangkan potensinya lebih jauh meski ia masih berada pada usia sekolah.
Van Gastel menyebut ketertarikannya pada pembinaan talenta muda menjadi salah satu alasan memberi ruang kepada Daib. Pelatih Kepala PSIM Yogyakarta itu menilai performa sang penjaga gawang cukup baik untuk mengikuti latihan tim senior.
“Saya sangat senang bekerja dengan talenta-talenta muda. Kami mengundang anak ini berlatih bersama kami karena ia baru berusia 16 tahun dan performanya cukup baik,” ujar Van Gastel.
Latihan khusus sebelum promosi
Daib terlebih dahulu menjalani proses observasi melalui latihan spesifik bersama pelatih kiper Mario Capece. Van Gastel beberapa kali hadir untuk memantau perkembangan pemain muda tersebut selama proses penilaian berlangsung.
“Tim pelatih merekomendasikannya kepada kami. Kemudian, Mario melatihnya secara khusus dan saya sempat memantau beberapa kali,” kata Van Gastel.
Setelah melihat proses tersebut, klub memutuskan mempertahankan Daib untuk dikembangkan di lingkungan tim utama. Van Gastel memiliki pengalaman membina pemain muda saat bekerja di Akademi Feyenoord Rotterdam.
Masuk ke skuad senior memberi Daib akses pada tuntutan latihan yang lebih tinggi dibandingkan level akademi. Kesempatan itu sekaligus menjadi ujian bagi pemain muda untuk beradaptasi dengan persaingan sepak bola profesional.
Masih berstatus pelajar
Daib sebelumnya bermain untuk EPA U-16 PSIM Jogja pada musim 2025/2026. Saat memperoleh promosi, ia masih tercatat sebagai siswa kelas XI SMA Negeri 2 Playen.
Perjalanan dari tim akademi ke lingkungan senior menjadi langkah besar bagi penjaga gawang asal Gunungkidul tersebut. Ia kini berkesempatan menimba pengalaman bersama pemain-pemain di level tertinggi klub.
Daib menyatakan bersyukur dapat masuk ke tim senior pada usia 16 tahun. Baginya, kesempatan tersebut merupakan realisasi dari harapan yang telah dibayangkan sejak kecil.
“Pertama-tama, saya mengucapkan alhamdulillah karena sudah bisa masuk ke dalam tim senior pada usia 16 tahun ini,” ujar Daib. Ia mengatakan mimpi bermain di tim senior sebelumnya sering hadir dalam bayangannya.
“Dahulu hal ini selalu terbawa ke dalam mimpi. Saya sering bermimpi bisa bermain di tim senior, dan alhamdulillah sekarang mimpi tersebut sudah menjadi kenyataan,” lanjutnya.
Pengalaman Swedia dan sasaran berikutnya
Sebelum mendapat peluang dari PSIM Yogyakarta, Daib pernah mengikuti pertandingan di Swedia bersama Tim Barati pada 2023. Pengalaman internasional itu menjadi bagian dari perkembangan kariernya sebagai kiper muda.
Daib juga antusias bekerja di bawah arahan Van Gastel karena dapat mempelajari budaya sepak bola Eropa yang dibawa sang pelatih ke Indonesia. “Bagi saya pribadi, saya cukup senang bisa dilatih oleh pelatih asing asal Eropa yang membawa budaya sepak bola Eropa ke Indonesia,” ucapnya.
Target berikutnya yang disampaikan Daib adalah memperkuat Tim Nasional Indonesia. “Iya, kalau target untuk masuk tim nasional itu pasti ada,” katanya, sembari memasuki fase penting untuk membuktikan kemampuan di tengah persaingan level senior.






