Penguasaan AI dan teknologi digital dinilai penting bagi masa depan generasi muda Indonesia. Namun, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan karakter tetap menjadi faktor yang lebih menentukan keberhasilan.
Ia memperkirakan karakter menyumbang 70 sampai 80 persen dalam menentukan capaian seseorang. Integritas, disiplin, kejujuran, kemampuan beradaptasi, dan kemauan belajar disebut tidak dapat digantikan oleh kecakapan teknis.
“Kalau saya ditanya mana yang lebih menentukan, kompetensi atau karakter, saya katakan 70 sampai 80 persen adalah tentang karakter,” ujar Bima. Pernyataan itu menekankan bahwa penguasaan teknologi perlu berjalan bersama pembentukan sikap dan ketangguhan pribadi.
Adab dan Kolaborasi bagi Pemimpin Masa Depan
Bima memandang adab memiliki posisi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Adab membentuk pola pikir, memengaruhi tindakan, lalu melahirkan kebiasaan positif yang turut menentukan arah masa depan seseorang.
Generasi muda juga didorong untuk terbuka pada perbedaan dan mampu bekerja sama. Pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki keunggulan individu, tetapi perlu sanggup memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut turut mencakup pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan membangun jejaring luas. Inovasi, kepemimpinan, serta semangat pengabdian para lulusan disebut sebagai modal untuk mendukung kemajuan Kabupaten Garut.
Teknologi Mengubah Standar Kompetensi
Transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah kebutuhan dunia kerja serta tata kelola pemerintahan. Kondisi ini membuat calon lulusan dan pemimpin muda perlu mempersiapkan kompetensi yang sesuai dengan perubahan cepat tersebut.
Bima menyoroti AI, data besar, ilmu komputer, robotika, sistem informasi, dan analisis data sebagai bidang yang perlu dikuasai. Keterampilan itu dipandang dapat membantu generasi muda agar tidak tertinggal dalam persaingan masa depan.
| Unsur Persiapan | Penjelasan |
|---|---|
| Kompetensi teknologi | Meliputi AI, data besar, ilmu komputer, robotika, sistem informasi, dan analisis data. |
| Karakter pribadi | Mencakup integritas, disiplin, kejujuran, adaptasi, dan belajar sepanjang hayat. |
| Kolaborasi | Menjadi kemampuan penting agar pemimpin masa depan dapat memberi manfaat bagi masyarakat. |
Pemanfaatan AI telah diterapkan pula di lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Teknologi itu digunakan untuk mendukung pengelolaan talenta ASN agar penempatan pegawai dapat lebih sesuai dengan kompetensinya.
Contoh tersebut menunjukkan AI dapat digunakan di luar pekerjaan sektor digital. Teknologi dapat membantu pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya manusia dalam pemerintahan.
Jendela Waktu Bonus Demografi
Di tengah kebutuhan kompetensi dan karakter itu, Indonesia dinilai hanya memiliki sekitar 20 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi. Periode tersebut menjadi kesempatan untuk mendorong Indonesia naik kelas menjadi negara maju.
Bima mengingatkan dominasi penduduk usia produktif merupakan modal yang besar, tetapi bukan jaminan kemajuan. Tanpa kesiapan sumber daya manusia, Indonesia berisiko gagal keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Seperti diberitakan Beritasatu yang mengutip Antara, Bima menyatakan Indonesia hanya dapat naik kelas bila mampu memanfaatkan bonus demografi. Agenda tersebut berkaitan dengan dorongan menuju Indonesia Emas 2045 melalui generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap mengabdi.






