Stres yang menumpuk tidak hanya dapat memengaruhi suasana hati dan waktu tidur. Kondisi ini juga dapat membuat kulit lebih reaktif, dari meningkatnya minyak penyebab jerawat hingga munculnya kerutan dan kantong di bawah mata.
Perubahan tersebut dapat terjadi pada wajah, tubuh, bahkan kulit kepala. Bila beberapa keluhan muncul bersamaan, kondisi stres berkepanjangan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Peningkatan kortisol saat stres disebut dapat mendorong produksi minyak pada kulit. Penjelasan WebMD yang dikutip CNN Indonesia juga menyebut stres dapat memengaruhi fungsi pelindung kulit dan daya tahan tubuh.
| Tanda | Penjelasan terkait stres |
|---|---|
| Kantong bawah mata | Kurang tidur dapat berkaitan dengan berkurangnya elastisitas kulit. |
| Kulit kering | Stratum korneum dapat mengalami gangguan fungsi pelindung. |
| Ruam | Keseimbangan bakteri dan sistem kekebalan dapat terpengaruh. |
| Kerutan | Elastisitas kulit dapat menurun akibat perubahan protein kulit. |
| Gatal kulit kepala | Kekeringan dapat memicu gatal dan berkaitan dengan rambut rontok. |
1. Kantong di bawah mata
Kantong mata lazim terjadi seiring pertambahan usia ketika otot pendukung di sekitar mata melemah. Kulit yang semakin kurang elastis juga dapat tampak kendur sehingga area bawah mata terlihat membesar.
Stres dapat memperburuk tampilan tersebut melalui gangguan tidur. Riset yang dikutip Healthline menemukan bahwa kurang tidur akibat stres dapat meningkatkan tanda penuaan, termasuk penurunan elastisitas kulit.
2. Kulit kering
Lapisan stratum korneum memiliki peran penting dalam menjaga kelembapan kulit. Protein dan lipid di dalamnya membantu mempertahankan hidrasi sel pada permukaan kulit.
Stres berkepanjangan dapat mengganggu fungsi lapisan ini. Saat perlindungan kulit melemah, kelembapan dapat berkurang dan kulit terasa kering maupun gatal.
3. Ruam
Stres dapat berkaitan dengan kemunculan ruam atau kemerahan karena kondisi ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Dampaknya dapat meluas pada keseimbangan bakteri yang terdapat di usus dan kulit.
Ketidakseimbangan tersebut dikenal sebagai disbiosis dan dapat memicu reaksi kulit. Psoriasis, eksim, serta dermatitis kontak yang telah dialami seseorang juga dapat memburuk ketika stres meningkat.
4. Kerutan
Tekanan berkepanjangan dapat memicu perubahan pada protein kulit. Perubahan itu dapat membuat elastisitas kulit berkurang, terlepas dari proses penuaan alami yang juga berlangsung.
Kulit dengan elastisitas yang menurun akan lebih sulit mempertahankan bentuknya. Garis-garis halus dan kerutan pun dapat menjadi lebih terlihat.
5. Gatal di kulit kepala
Stres dapat membuat kulit menjadi lebih kering, termasuk pada area kepala yang tertutup rambut. Kulit kepala yang kering kemudian dapat menimbulkan rasa gatal yang mengganggu.
Kondisi ini juga patut dicermati karena stres disebut berkaitan dengan rambut rontok. Meski jerawat sering menjadi keluhan yang paling dikenal, lima perubahan ini menunjukkan dampak stres dapat terlihat lebih luas pada kulit.






