4 Kebiasaan Cas HP yang Terlihat Aman, Padahal Bisa Mempercepat Baterai Aus

Menguras baterai ponsel sampai 0 persen sebelum mengisi ulang dapat mempercepat penurunan kapasitas pada perangkat modern. Kebiasaan ini masih sering dilakukan karena aturan lama yang sebenarnya ditujukan untuk baterai generasi terdahulu.

Smartphone kini hampir seluruhnya memakai baterai lithium-ion yang tidak memiliki efek memori seperti baterai nikel-kadmium. Karena itu, pola pengisian daya perlu disesuaikan agar kesehatan baterai dapat lebih terjaga dalam pemakaian jangka panjang.

MitosFakta pada Baterai Lithium-IonPerhatian Utama
Baterai baru harus 100 persenTidak mengalami efek memori.Tidak wajib dicas penuh sebelum dipakai.
Pengisian 100 persen langsung merusakTidak otomatis merusak baterai.Hindari terlalu lama terhubung setelah penuh.
Baterai harus habis sebelum dicasPengosongan penuh dapat menurunkan kapasitas.Pengisian sebagian lebih relevan.
Charger harus satu merekCharger lain dapat digunakan bila sesuai.Periksa tegangan dan protokol pengisian cepat.

1. Baterai Baru Harus Diisi Penuh

Anggapan bahwa ponsel baru harus diisi hingga 100 persen sebelum digunakan berasal dari masa baterai nikel-kadmium. Baterai jenis tersebut dapat mengalami efek memori ketika berulang kali diisi dalam kapasitas yang lebih rendah.

Baterai lithium-ion memiliki susunan kimia berbeda dan tidak bekerja dengan pola tersebut. Pengguna tidak perlu menunggu indikator baterai penuh untuk mulai menggunakan smartphone baru.

2. Pengisian hingga 100 Persen Langsung Merusak

Mengisi baterai sampai penuh tidak berarti perangkat akan langsung mengalami kerusakan. Namun, membiarkan ponsel terus tersambung dengan charger setelah kapasitas penuh perlu dihindari.

Kondisi itu dapat memicu trickle charge, ketika perangkat perlahan menggunakan daya lalu kembali mengisinya. Siklus kecil tersebut dapat menghasilkan panas berlebih yang berpotensi mempercepat keausan baterai.

Sejumlah ponsel menyediakan batas pengisian 80 persen untuk membantu menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang. iPhone juga memiliki fitur Optimized Charging yang menuntaskan sekitar 20 persen pengisian terakhir mendekati waktu pengguna biasa bangun tidur.

3. Baterai Harus Benar-Benar Habis Sebelum Dicas

Pengosongan daya hingga nol persen merupakan kebiasaan yang kurang sesuai untuk baterai lithium-ion. Pola ini dahulu dipakai untuk mengatasi efek memori pada baterai nikel-kadmium, bukan untuk teknologi baterai ponsel saat ini.

Pengisian sebagian dapat membantu mengelola siklus baterai tanpa harus menunggu daya kosong. Satu siklus penuh dihitung saat kapasitas daya terisi dari 0 persen hingga 100 persen.

Samsung Galaxy S25 Ultra disebut memiliki rating sekitar 2.000 siklus pengisian sebelum kapasitasnya turun hingga sekitar 80 persen. Pengisian dari 20 persen ke 80 persen memungkinkan satu siklus penuh dibagi menjadi dua tahap.

Pola tersebut dinilai dapat membantu baterai bertahan lebih lama dibanding kebiasaan mengosongkan daya lalu mengisinya penuh setiap kali. Panas yang muncul selama proses pengisian juga tetap perlu diperhatikan oleh pengguna.

4. Charger Resmi dari Merek yang Sama Selalu Wajib

Charger resmi dari produsen ponsel tetap menjadi pilihan aman karena dirancang sesuai spesifikasi perangkat. Meski demikian, charger dari merek lain tidak otomatis berbahaya selama spesifikasinya sesuai.

Hal yang perlu diperiksa ialah tegangan serta protokol pengisian cepat yang didukung perangkat. Rangkuman tekno.kompas.com dari BGR menyebut perbedaan protokol umumnya membuat proses pengisian menjadi lebih lambat.

Risiko dapat muncul apabila charger memiliki tegangan terlalu tinggi bagi perangkat. Memilih charger HP yang sesuai spesifikasi lebih penting daripada semata-mata memastikan mereknya sama dengan ponsel.

Baca Juga