235 Gempa Susulan Guncang Utara Flores, BMKG Prediksi Aktivitas Bertahan 3 Pekan

Aktivitas gempa susulan di utara Pulau Flores belum mereda setelah gempa utama berkekuatan M7,7. Hingga Sabtu (15/8) pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan kekuatan M2,5 hingga M6,2.

Rangkaian guncangan tersebut diperkirakan masih berlangsung selama dua sampai tiga pekan. Estimasi itu menunjukkan proses penyesuaian struktur batuan belum selesai setelah gempa utama terjadi.

Peluruhan Diperkirakan Berlangsung Bertahap

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan aktivitas gempa tidak akan berhenti secara mendadak. “BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” katanya pada Sabtu (15/8).

Grafik pemantauan BMKG memperlihatkan tren gempa susulan yang masih belum meluruh. Sebaran gempa tetap berada di wilayah sebelah utara Pulau Flores dengan variasi magnitudo yang cukup lebar.

Gempa susulan merupakan bagian dari penyesuaian sesar setelah terjadinya gempa utama. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik serta kondisi muka laut di kawasan terdampak.

Tsunami Tercatat di Sejumlah Wilayah

Gempa M7,7 tersebut juga menimbulkan tsunami yang teramati hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Jaringan pengukur pasang surut mencatat kenaikan muka air laut di beberapa titik pengamatan.

Lokasi PengamatanKetinggian Tsunami
Reo, Manggarai dan Manggarai TimurHingga 1,61 meter
Maurole, Ende0,94 meter
BulukumbaMelampaui 0,5 meter
Sape, BimaMelampaui 0,5 meter

Catatan kenaikan muka air tertinggi mencapai 1,61 meter di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur. Maurole di Ende mencatat tinggi gelombang 0,94 meter, sedangkan Bulukumba dan Sape, Bima, melampaui 0,5 meter.

BMKG mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. Pengakhiran peringatan dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka laut telah kembali aman.

Gempa Dangkal dari Sesar Aktif

Gempa utama berpusat pada kedalaman 15 kilometer dan dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Kedalaman yang relatif dangkal membuat guncangan berpotensi menimbulkan dampak fisik lebih berat terhadap bangunan dan infrastruktur.

Sesar Flores dikenal memiliki rekam jejak gempa merusak di kawasan Nusa Tenggara Timur. Salah satu peristiwa yang tercatat ialah gempa berkekuatan M7,8 pada 1992 dengan kedalaman 28 kilometer.

Karakter sesar dan kedalaman pusat gempa menjadi faktor penting dalam membaca potensi dampak di daratan. Karena itu, periode peluruhan gempa susulan tetap menjadi perhatian selama pemantauan BMKG berlangsung.

Baca Juga