Hampir 19.000 File PLTN Kudankulam Beredar, Sistem Reaktor Disebut Tetap Aman

Hampir 19.000 file yang dikaitkan dengan PLTN Kudankulam di India beredar di dark web setelah diunggah kelompok ransomware World Leaks. Di tengah kekhawatiran atas dokumen proyek nuklir itu, operator menyatakan sistem keselamatan dan keamanan reaktor tidak terdampak.

Nuclear Power Corporation of India (NPCIL) menegaskan informasi yang tersedia secara publik tidak berkaitan dengan sistem keselamatan nuklir maupun keamanan nuklir. Operator menyebut material yang bocor berkaitan dengan bagian konvensional fasilitas, bukan operasi inti reaktor.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena Kudankulam merupakan salah satu proyek nuklir besar di India. Fasilitas di Tamil Nadu itu dibangun melalui kerja sama pemerintah India dan Rosatom, perusahaan nuklir negara Rusia.

Arsip Berukuran 14,3 GB

Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Russia Today, arsip yang diunggah World Leaks berukuran sekitar 14,3 gigabita. Dokumen itu muncul di dark web pada Rabu, tetapi keaslian seluruh file belum dapat diverifikasi secara independen.

Kelompok tersebut mengklaim arsip berisi cetak biru sebagian fasilitas serta data pemasok komponen. Rincian data yang beredar membuat insiden ini tetap mendapat perhatian meski NPCIL memastikan sistem utama reaktor tidak terganggu.

AspekInformasi
Jumlah fileHampir 19.000 file
Ukuran arsipSekitar 14,3 gigabita
Isi yang diklaimCetak biru bagian fasilitas dan data pemasok komponen
Sistem yang dinyatakan amanSistem keselamatan dan keamanan nuklir

Jalur Kebocoran Diduga dari Sistem Pendukung

Jalur awal kebocoran diduga berasal dari sistem digital Reliance Group, perusahaan milik Anil Ambani. Perusahaan tersebut memegang kontrak untuk mengerjakan sistem pendukung di luar fasilitas nuklir utama sejak 2018.

Reliance Group mengakui terjadi pelanggaran data pada server eksternal yang digunakan perusahaan. Dalam pernyataan kepada Reuters, perwakilan perusahaan mengatakan, “Terjadi pelanggaran parsial terhadap data kami pada server yang di-hosting oleh penyedia layanan pusat data India pihak ketiga, Yotta.”

Perusahaan menyatakan insiden itu telah dilaporkan kepada badan keamanan siber nasional. Sementara itu, Yotta menyebut telah mendeteksi eksekusi ransomware yang mencurigakan sejak 29 Mei dan mengambil langkah pencegahan.

Penjelasan NPCIL mengenai bagian konvensional merujuk pada elemen fasilitas yang lazim terdapat pula di pembangkit listrik termal. Namun, dokumen internal dari proyek energi nuklir tetap dapat menjadi materi sensitif apabila memuat detail infrastruktur dan rantai pasok.

Risiko Tetap Disorot

Direktur senior Nuclear Threat Initiative, Nickolas Roth, memperingatkan kebocoran data semacam ini dapat memunculkan risiko serius bagi keselamatan pembangkit. Peringatan itu menekankan bahwa gangguan terhadap sistem reaktor bukan satu-satunya dampak yang perlu diperhitungkan dalam insiden siber.

World Leaks dikenal kerap membuka data korporasi ketika target tidak memenuhi tuntutan tebusan. Pada Juni, kelompok yang sama disebut mengunggah file Tata Group yang memuat desain rahasia klien, termasuk Apple dan Tesla.

Unggahan terhadap Tata Group itu muncul setelah konglomerat tersebut disebut mengabaikan tuntutan tebusan sebesar US$ 1,5 juta. Pola publikasi data itu membuat file yang dikaitkan dengan Kudankulam menjadi perhatian, walaupun validitas keseluruhan dokumen belum dipastikan.

Kudankulam direncanakan mengoperasikan enam reaktor air bertekanan ketika proyek selesai sepenuhnya. Saat ini, dua reaktor berkapasitas masing-masing 1.000 MW telah aktif memasok listrik.

Fasilitas ini juga pernah dikaitkan dengan insiden siber pada 2019, ketika malware yang disebut terhubung dengan kelompok peretas asal Korea Utara ditemukan menyusup ke jaringan administratifnya. Peristiwa terbaru kembali menyoroti pentingnya perlindungan jaringan digital pendukung pada infrastruktur nuklir.

Baca Juga