1 dari 4 Anak Indonesia Alami Stunting, Perhatikan 4 Langkah untuk Mencegahnya

Satu dari empat anak Indonesia disebut mengalami stunting, kondisi yang menjadi perhatian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan persoalan tersebut berkaitan dengan masa depan anak-anak Indonesia.

Stunting bukan sekadar persoalan tubuh pendek karena dapat berdampak pada perkembangan otak serta kemampuan kognitif dan motorik. Kementerian Kesehatan RI menyampaikan dampak itu sebagai alasan pentingnya perhatian terhadap tumbuh kembang anak.

Stunting perlu dikenali melalui pengukuran pertumbuhan

Stunting adalah kondisi ketika pertumbuhan anak tidak tercukupi sehingga tinggi badannya lebih pendek dibandingkan ukuran yang seharusnya pada usia tersebut. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kurangnya nutrisi atau infeksi.

Menurut WHO, stunting merujuk pada tinggi badan pendek atau sangat pendek berdasarkan tinggi badan menurut usia. Ukurannya berada di bawah minus 2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO.

Gejalanya dapat terlihat ketika pertumbuhan anak tidak sejalan dengan anak lain pada usia yang sama. Keterlambatan pertumbuhan tulang menjadi salah satu tanda yang disebutkan.

Anak dengan stunting juga dapat memiliki berat badan lebih rendah dibandingkan teman seusianya. Proporsi tubuh yang tampak lebih kecil turut menjadi ciri yang perlu diperhatikan, meski penetapan kondisi tetap mengacu pada pengukuran tinggi badan menurut usia.

4 langkah untuk mencegah stunting

1. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan

ASI eksklusif diberikan hingga bayi berusia 6 bulan sebagai salah satu langkah yang disoroti. Pemenuhan kebutuhan anak sejak awal kehidupan menjadi bagian penting dari perhatian terhadap pertumbuhannya.

Setelah usia 6 bulan, kebutuhan gizi anak tidak berhenti dan perlu dilanjutkan melalui makanan pendamping ASI. Tahap berikutnya menuntut perhatian pada kualitas makanan yang diberikan kepada anak.

2. Memberikan MPASI dengan kandungan protein hewani

Makanan pendamping ASI perlu bergizi dan mengandung protein hewani. MPASI menjadi salah satu penopang kebutuhan nutrisi anak setelah periode pemberian ASI eksklusif.

Stunting dapat berkaitan dengan kekurangan nutrisi, sehingga pemenuhan makanan bergizi perlu dijaga. Upaya ini menjadi relevan seiring anak memasuki masa konsumsi makanan pendamping ASI.

3. Melakukan pemantauan pertumbuhan di posyandu

Anak perlu dibawa ke posyandu secara periodik untuk memantau perkembangan. Pemeriksaan rutin membantu memastikan tumbuh kembang anak terus diperhatikan.

Pemantauan pertumbuhan juga berkaitan dengan pengenalan tanda stunting. Tinggi badan menurut usia menjadi ukuran utama yang digunakan dalam kurva pertumbuhan WHO.

4. Mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin

Konsumsi tablet tambah darah secara rutin termasuk dalam daftar tindakan pencegahan yang disebutkan. Langkah tersebut berjalan beriringan dengan perhatian terhadap nutrisi dan pertumbuhan anak.

No.LangkahFokus Utama
1ASI eksklusifPemberian hingga usia 6 bulan.
2MPASI bergiziMakanan pendamping dengan protein hewani.
3Pemantauan posyanduMemeriksa pertumbuhan secara periodik.
4Tablet tambah darahKonsumsi secara rutin.

Perhatian sejak dini menjadi penting

Prabowo menyampaikan sorotan terhadap angka stunting itu dalam pidato kenegaraan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Ia menyebut, “Anak-anak kita. Satu dari empat anak mengalani stunting.”

Perhatian terhadap ASI eksklusif, MPASI bergizi, tablet tambah darah, dan kunjungan posyandu menjadi langkah yang disoroti dalam pencegahan tengkes. Keempatnya menempatkan pemenuhan nutrisi dan pemantauan tumbuh kembang sebagai bagian yang saling berkaitan.

Stunting tidak berhenti pada perubahan fisik yang tampak pada tinggi badan anak. Dampaknya terhadap perkembangan otak serta kemampuan kognitif dan motorik membuat pencegahan perlu dijaga secara berkelanjutan.

Baca Juga