Final Piala Dunia Jadi Waktu Ayah dan Anak, Zaskia Pilih Jujur kepada Guru

Final Piala Dunia menjadi alasan Zaskia Adya Mecca mengizinkan anak-anaknya tidak masuk sekolah. Ia ingin anak-anak dapat menikmati kebersamaan dengan ayah mereka dalam momen yang dinilainya tidak datang setiap waktu.

Zaskia menilai pertandingan sepak bola dunia yang berlangsung empat tahun sekali layak dipandang sebagai kesempatan khusus bagi keluarga. Menonton bersama, menurutnya, dapat membentuk kenangan yang akan terus diingat oleh anak.

Keputusan itu tidak disampaikan dengan alasan lain kepada sekolah. Zaskia memilih memberi tahu guru bahwa anaknya meminta izin untuk menyaksikan Piala Dunia.

“Ya kalau buat aku ya Piala Dunia kan 4 tahun sekali, gitu, ya udah kenapa nggak?” kata Zaskia saat ditemui di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 21 Juli 2026. Ia menempatkan kesempatan bersama ayah sebagai waktu yang berharga bagi anak-anaknya.

Keterbukaan kepada Pihak Sekolah

Zaskia mengatakan keterusterangannya mengenai izin tersebut sempat memicu percakapan di kalangan orang tua murid. Sejumlah ibu menghubunginya untuk menanyakan apakah alasan menonton pertandingan dapat disampaikan apa adanya kepada guru.

Menurut Zaskia, beberapa orang tua kerap memilih alasan acara keluarga ketika anak tidak masuk sekolah. Ia mengambil sikap berbeda dengan menjelaskan kondisi yang sebenarnya agar guru memahami penyebab ketidakhadiran anak.

Kepada hot.detik.com, Zaskia mengungkapkan unggahannya soal izin tersebut sempat ramai dibahas. “Cuma ya kemarin sempet ramai aku posting karena, aku postingnya kayak terus terang sama guru, ‘Izin ya anakku nonton Piala Dunia’ gitu kan,” tuturnya.

Baginya, komunikasi dengan sekolah perlu dibangun secara terbuka. Penjelasan yang sesuai keadaan dapat membantu pihak sekolah memahami konteks ketika anak tidak mengikuti kegiatan belajar.

Tidak Menyamarkan Kondisi Anak

Sikap itu juga digunakan Zaskia ketika anak berada dalam kondisi emosional tertentu. Ia terbiasa memberi informasi kepada wali kelas apabila anak belum siap masuk sekolah karena sedang sedih atau menghadapi masalah perasaan.

Zaskia menilai keadaan emosional anak perlu dipahami, bukan disembunyikan di balik alasan sakit. Guru, menurutnya, dapat lebih mengerti perubahan perilaku anak apabila mengetahui situasi yang sedang terjadi di rumah.

“Misalnya, ‘Bu, anaknya gak mau sekolah, lagi ini’ atau gak ‘Anak aku lagi sedih, jangan kaget Bu anak aku lagi patah hati dan dia lagi nangis semaleman,’” terangnya. Contoh tersebut menunjukkan bahwa ia memberi konteks langsung kepada guru mengenai keadaan anak.

Ia berpandangan bahwa anak memiliki hak untuk mengambil waktu istirahat ketika diperlukan. Kebutuhan itu tidak harus selalu terkait keluhan fisik atau kondisi kesehatan.

“Karena ya buat aku ya pasti orang gak harus alasan sakit kok kalau butuh waktu istirahat,” pungkasnya. Dengan pendekatan tersebut, izin sekolah dipandang sebagai bagian dari komunikasi antara orang tua, anak, dan guru.

Dalam keputusan mengizinkan anak menonton Piala Dunia, Zaskia menekankan nilai kedekatan keluarga yang dibangun melalui waktu bersama. Ia tetap menyampaikan alasan ketidakhadiran secara terbuka kepada sekolah sebagai bentuk tanggung jawab orang tua.

Baca Juga