Lekukan Huruf Baru Instagram Sulit Dibaca, Mengapa Platform Ini Tetap Memilihnya

Wordmark baru Instagram memicu kritik karena sejumlah pengguna mengaku tidak langsung dapat membaca nama platform tersebut. Lekukan pada huruf “r” membuat tulisan itu oleh sebagian orang terlihat seperti “Instagzam” atau “Instagran”.

Meski keterbacaan menjadi sorotan, Instagram tetap memilih gaya tulisan tangan yang lebih tebal dan dinamis untuk identitas visualnya. Keputusan ini menunjukkan bahwa platform tersebut ingin menonjolkan ekspresi dan karakter merek, bukan semata-mata bentuk huruf yang mudah dikenali dalam sekali pandang.

Pembaruan identitas visual ini diperkenalkan pada Agustus 2026 melalui perubahan wordmark di bagian atas aplikasi. Ikon kamera dengan gradasi warna khas tetap dipertahankan, sehingga perubahan utama berpusat pada tulisan merek dan sistem visual pendukungnya.

Risiko dari Gaya Script

Gaya script atau tulisan sambung dapat terasa kurang akrab bagi sebagian pengguna, terutama karena kebiasaan membaca maupun menulis cursive semakin berkurang. Di banyak negara, tulisan sambung juga tidak lagi diajarkan secara aktif di sekolah.

Kondisi tersebut membuat bentuk huruf yang lebih ekspresif berpotensi memerlukan waktu lebih lama untuk dikenali. Namun, kekuatan merek Instagram dinilai membantu pengguna tetap memahami identitas platform melalui konteks tampilan aplikasi dan ikon kameranya.

Instagram tampaknya sengaja mengambil risiko visual tersebut untuk mengurangi kesan korporat pada tampilannya. Bentuk huruf baru memiliki lekukan yang lebih tidak terduga pada karakter “s”, “r”, dan “g”, sekaligus memberi kesan buatan tangan.

Identitas yang Diperluas

Pembaruan tidak berhenti pada wordmark Instagram. Platform ini juga menyegarkan tipografi dan rancangan gerak antarmuka agar seluruh elemen tampil sebagai satu sistem identitas yang lebih seragam.

Elemen IdentitasPeran dalam Pembaruan
Instagram SansVersi font yang diperbarui
Instagram PenFont bergaya tulisan tangan
Instagram MonoDigunakan untuk konten teknis
Rancangan gerakTransisi antarmuka yang baru

Rancangan baru wordmark dipimpin Jasmine Probst selaku Director of Product Design Instagram. Pemilihan gaya tulisan tangan dipandang lebih mampu menyampaikan individualitas dibandingkan bentuk sans-serif yang lebih datar.

Menurut gadget.viva.co.id, identitas sebelumnya telah digunakan sejak 2016 sebelum perusahaan melakukan penyegaran besar. Perubahan kali ini dirancang untuk menyesuaikan tampilan merek dengan perkembangan Instagram yang kini mencakup Reels, AI, belanja, dan konten profesional.

Menghubungkan Masa Lalu dan Arah Baru

Nuansa handmade dalam desain baru itu juga membawa ingatan pada Instagram awal pada 2010. Pada masa tersebut, pengguna kerap membagikan foto spontan dengan filter seperti X-Pro II atau Valencia.

Instagram berupaya menghidupkan kembali kesan autentik dari aktivitas berbagi visual yang lebih personal. Langkah ini muncul ketika platform menghadapi anggapan bahwa nuansa personalnya memudar akibat dorongan terhadap video pendek, konten viral, dan iklan.

Kepala Instagram Adam Mosseri menyampaikan pembaruan itu melalui unggahan di Instagram dan Threads. Ia mengatakan, “Kami ingin identitas kami terasa relevan dengan siapa kami hari ini dan ke mana kami akan pergi.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perubahan tulisan bukan sekadar penggantian tampilan. Instagram ingin mempertahankan kaitan dengan kreativitas, koneksi personal, dan ekspresi individu sambil menyesuaikan diri dengan arah platform saat ini.

Bukan Pertama Kali Menghadapi Penolakan

Instagram pernah menghadapi respons negatif ketika meninggalkan logo kamera Polaroid dalam rebranding 2016. Seiring waktu, desain tersebut berkembang menjadi salah satu ikon digital yang mudah dikenali.

Pendekatan terbaru terlihat lebih hati-hati karena ikon utama tidak dihilangkan sepenuhnya. Instagram mempertahankan elemen visual yang sudah akrab, sambil memperbarui tulisan dan tipografinya agar terasa lebih dekat dengan identitas kreatif yang ingin ditekankan kembali.

Rebranding tetap tidak otomatis menjawab seluruh persoalan pengalaman pengguna. Kesan personal Instagram pada akhirnya akan ditentukan pula oleh algoritma, fitur, serta jenis konten yang memperoleh prioritas di dalam platform.

Baca Juga