Dari Laboratorium ke Kurikulum, TPS Toyota Ditanamkan di 10 Perguruan Tinggi

Toyota Motor Manufacturing Indonesia membawa penerapan Toyota Production System atau TPS ke laboratorium dan kurikulum 10 perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut diarahkan untuk membentuk kemampuan mahasiswa menyelesaikan masalah industri berdasarkan pengamatan dan fakta di lapangan.

Model pendampingan dimulai dari pengembangan laboratorium TPS di kampus. Tahap selanjutnya meliputi pemahaman lean manufacturing bagi dosen dan mahasiswa, kemudian penyusunan kurikulum yang mendukung penerapan pendekatan tersebut.

Laboratorium diposisikan lebih dari sekadar tempat praktik teknis. Mahasiswa menggunakannya sebagai ruang untuk mengamati proses, mengenali hambatan, dan melatih penyusunan perbaikan yang sistematis.

Universitas Udayana menjadi salah satu institusi yang menerapkan pendampingan melalui Lean Manufacturing Laboratory. Presiden TMMIN Nandi Julyanto meninjau laboratorium di Fakultas Teknik Universitas Udayana serta berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa mengenai pengembangan TPS.

Mahasiswa disiapkan untuk kebutuhan industri

Pendampingan tersebut dirancang agar mahasiswa dapat membawa pola pemecahan masalah yang dipelajari ke dunia industri. CNN Indonesia menyebut pelaksanaannya dilakukan bertahap, dari pengembangan fasilitas hingga penguatan kurikulum.

Fokus program tidak semata memperkenalkan tata kelola produksi otomotif. TMMIN juga mendorong pembentukan cara berpikir yang menelusuri penyebab persoalan, mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan melakukan perbaikan berkelanjutan.

Nandi menilai TPS harus dipahami sebagai cara berpikir dan cara bekerja. Pendekatan ini meminta setiap orang tidak berhenti pada solusi cepat untuk masalah yang hanya terlihat di permukaan.

“Bagi kami, TPS adalah cara berpikir dan cara bekerja. Melalui TPS, setiap orang didorong untuk tidak berhenti pada penyelesaian masalah di permukaan, tetapi berani mencari akar persoalannya, mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan terus melakukan perbaikan,” kata Nandi.

Genba dan Kaizen dalam pembelajaran

Mahasiswa diperkenalkan pada budaya Kaizen, yaitu perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan. Kebiasaan ini menuntut peserta pembelajaran untuk terus mengamati proses dan memperbaiki hambatan yang ditemukan.

Konsep lain yang ditekankan adalah Genba, yakni melihat langsung lokasi tempat suatu proses berlangsung. Dengan metode tersebut, masalah dipahami dari keadaan nyata dan bukan dari asumsi.

“Melalui Genba, kami ingin mahasiswa merasakan bahwa pembelajaran terbaik lahir dari pengalaman langsung,” ujar Nandi. Pengalaman langsung itu menjadi landasan penerapan TPS dalam konteks pendidikan tinggi.

TMMIN juga mengenalkan prinsip Bad News First sebagai bagian dari budaya kerja. Prinsip ini mendorong keberanian menyampaikan persoalan sejak awal agar solusi dapat disiapkan sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Dalam kuliah umum, Nandi memaparkan nilai kerja Toyota berupa kepemimpinan, integritas, sikap visioner, menghargai, kepemilikan, inovasi, dan kerja sama. Nilai tersebut menjadi pelengkap bagi TPS karena perbaikan proses memerlukan keterbukaan serta kolaborasi.

Jangkauan 10 kampus

Program ini melibatkan kampus dari sejumlah wilayah di Indonesia. Perguruan tinggi peserta mencakup institusi teknik dan universitas yang tersebar dari Aceh hingga Bali dan Sulawesi.

Perguruan TinggiSingkatan
Institut Teknologi Sepuluh NopemberITS
Universitas DiponegoroUndip
Universitas Gadjah MadaUGM
Universitas Syiah KualaUSK
Institut Teknologi BandungITB
Universitas Sebelas MaretUNS
Universitas HasanuddinUnhas
Universitas Darma PersadaUnsada
Universitas UdayanaUnud
Universitas IndonesiaUI

Kesepuluh kampus itu adalah ITS, Undip, UGM, USK, ITB, UNS, Unhas, Unsada, Unud, dan UI. Melalui pendampingan tersebut, TPS diperluas sebagai pendekatan pembelajaran yang menghubungkan laboratorium, kurikulum, dan kesiapan mahasiswa menghadapi persoalan di industri.

Baca Juga