Subang disiapkan bukan hanya sebagai lokasi perakitan Mobil Nasional dan Motor Listrik Nasional. Kawasan ini dirancang memuat pabrik baterai, pusat riset dan pengembangan, pengujian kendaraan, serta dukungan logistik kereta api.
Rancangan tersebut mengarah pada pembentukan ekosistem manufaktur terpadu di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Berbagai industri pendukung juga direncanakan hadir untuk menopang proses produksi kendaraan secara terintegrasi.
Pabrik baterai menjadi salah satu fasilitas utama yang masuk dalam rencana kawasan. Keberadaan fasilitas ini ditempatkan bersama sarana manufaktur dan pengembangan teknologi kendaraan.
Pusat penelitian dan pengembangan akan menjadi bagian dari ekosistem yang dirancang. Fasilitas pengujian kendaraan juga disiapkan untuk melengkapi kebutuhan pengembangan kendaraan nasional.
Jalur logistik kereta api turut direncanakan sebagai penopang konektivitas kawasan. Dukungan transportasi tersebut masuk dalam agenda infrastruktur bagi aktivitas manufaktur berskala besar.
Skala pengembangan kawasan dibagi dalam dua tahap utama. Fase awal menggunakan 60 hektare lahan, sedangkan rencana jangka panjang mencakup area hingga 539 hektare.
| Tahap | Luas Lahan | Produksi Kendaraan |
|---|---|---|
| Awal | 60 hektare | 50.000 unit per tahun |
| Jangka panjang | 539 hektare | Hingga 300.000 unit per tahun |
Pada tahap awal, kawasan ditargetkan menghasilkan 50.000 unit kendaraan per tahun. Kapasitas itu direncanakan meningkat hingga 300.000 unit per tahun setelah pengembangan jangka panjang berjalan.
Target kapasitas jangka panjang berarti enam kali lebih besar daripada sasaran produksi pada fase awal. Perluasan lahan dan penambahan fasilitas pendukung menjadi bagian dari arah pengembangan tersebut.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung kesiapan kawasan di Subang pada Selasa, 21/7. Peninjauan itu dilakukan bersama Menteri Pekerjaan Umum, Direktur Utama PT Pindad, dan Direktur Utama PT Len Industri.
Lokasi pengembangan diproyeksikan sebagai instalasi strategis nasional. Peninjauan berfokus pada kesiapan kawasan dalam menyatukan kebutuhan otomotif, teknologi, dan infrastruktur pendukung.
Pembahasan kunjungan juga mencakup pemanfaatan infrastruktur jalan tol untuk kepentingan pertahanan. Salah satu gagasannya ialah menyiapkan ruas tertentu sebagai landasan sementara pesawat dalam keadaan darurat.
Agenda itu memperlihatkan perhatian terhadap fungsi konektivitas di sekitar kawasan. Pengembangan Subang dengan demikian turut berkaitan dengan pembahasan infrastruktur strategis di luar aktivitas manufaktur kendaraan.
CNN Indonesia mengutip keterangan Sjafrie yang disampaikan melalui akun Instagram mengenai arti pembangunan kawasan tersebut. Ia menyebut proyek itu sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemampuan industri nasional.
“Pembangunan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan pelaksanaan ekonomi nasional berdasarkan Pasal 33 UUD 1945,” tulis Sjafrie. Pernyataan itu menempatkan proyek Subang dalam kerangka kemandirian industri dan penguasaan teknologi.
Sjafrie menekankan perlunya keterpaduan antara pembangunan ekonomi, industri nasional, pertahanan, dan kepentingan masyarakat. Menurut keterangannya, sinergi itu diperlukan untuk memperkuat kedaulatan serta mendukung Indonesia yang mandiri.
Kesiapan fasilitas produksi, baterai, riset, pengujian, industri pendukung, dan logistik menjadi elemen penting dalam rencana kawasan ini. Semua unsur tersebut dirancang untuk menopang sasaran produksi kendaraan nasional dari tahap awal hingga ekspansi jangka panjang.






