Stella Christie Soroti Risiko Kampus Tersisih Jika Jurusan AI Hanya Kejar Popularitas

Kampus berisiko kehilangan pembeda apabila hanya mengandalkan pengajaran teknis saat AI makin mampu membantu proses belajar dan pemecahan masalah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai perguruan tinggi harus memiliki peran yang tidak mudah digantikan teknologi.

Risiko itu juga berlaku bagi pembukaan program studi kecerdasan buatan yang didorong oleh popularitas AI. Tanpa materi ajar dan tujuan institusional yang jelas, jurusan tersebut dapat kehilangan arti ketika tren serta kebutuhan masyarakat berubah.

Nilai Manusia Harus Menjadi Pembeda

Stella menekankan mahasiswa perlu mampu menciptakan pengetahuan yang berbeda dari hasil yang dapat diberikan AI. Kemampuan tersebut dinilai penting agar manusia tidak sekadar menjadi pengguna atau pengulang informasi dari teknologi.

“Kalau adik-adik tidak mampu menciptakan pengetahuan yang berbeda dari AI, tentu saja adik-adik akan digantikan oleh AI,” kata Stella. Pernyataan itu menempatkan penciptaan pengetahuan sebagai salah satu tantangan utama pendidikan tinggi.

Menurut Stella, universitas perlu menentukan jenis pengetahuan yang harus tetap diciptakan manusia. Kampus juga perlu memahami jenis pekerjaan intelektual yang dapat dilakukan oleh AI agar batas dan arah pembelajaran menjadi lebih jelas.

Mahasiswa menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena mereka menghadapi langsung perubahan cara belajar akibat teknologi. Pendidikan tidak cukup membentuk kemampuan untuk menerima informasi, melainkan juga kemampuan membangun pemahaman baru.

Tiga Tugas untuk Menjaga Relevansi

Stella menawarkan tiga fungsi yang perlu dijalankan serius oleh universitas agar tetap relevan. Fungsi tersebut meliputi penciptaan pengetahuan, transmisi ilmu pengetahuan, dan kurasi ilmu pengetahuan.

Fungsi UniversitasFokus Utama
Penciptaan pengetahuanMendorong pengetahuan yang tidak sekadar sama dengan keluaran AI
Transmisi ilmuMenetapkan ilmu yang diteruskan kepada mahasiswa dan masyarakat
Kurasi ilmuMenilai dan memilah informasi yang relevan bagi publik

Dalam fungsi transmisi, kampus perlu meninjau kembali pengetahuan apa yang penting disampaikan dari dosen kepada mahasiswa. Pengetahuan itu kemudian dapat diteruskan mahasiswa ke lingkungan di luar universitas.

Kurasi ilmu juga menjadi tugas yang semakin mendesak karena AI dapat menghasilkan informasi secara cepat dalam jumlah besar. Perguruan tinggi perlu membantu mengevaluasi dan memilih informasi yang relevan bagi kepentingan publik.

AI Mengubah Pertanyaan tentang Masa Depan Kampus

Stella menyampaikan pandangan itu saat pembukaan Tanoto Scholar Gathering di Riau pada Kamis, 23 Juli 2026. Ia mengakui pemahaman mengenai Kecerdasan Buatan telah menjadi kebutuhan strategis di tengah perubahan cara manusia memperoleh serta mengolah informasi.

Teknologi AI kini dapat menyediakan informasi, membantu memecahkan persoalan, dan menangani teorema matematika yang rumit. Kehadirannya juga membuat AI menjadi salah satu medium belajar bagi generasi muda.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alasan keberadaan universitas ketika sejumlah fungsi pembelajaran dapat dibantu teknologi. Jawabannya, menurut arah pemikiran Stella, tidak dapat dibatasi pada penguasaan keterampilan teknis.

“The devil is in the detail. Tergantung dari apa yang diajarkan. Kalau hanya fad, hanya fashion, akan tergantikan,” ujar Stella. Ia menegaskan kualitas dan rincian pembelajaran menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan sebuah Jurusan AI.

Pembukaan program studi baru karena tren tidak cukup untuk menjawab perubahan besar dalam dunia pendidikan. Kampus perlu merumuskan peran yang mampu menghasilkan, meneruskan, dan menyaring pengetahuan secara bertanggung jawab.

Universitas yang berhasil menjalankan ketiga fungsi tersebut dinilai masih dapat mempertahankan relevansinya. Sebaliknya, kampus yang hanya berfokus pada kompetensi teknis menghadapi risiko lebih besar untuk tidak lagi dibutuhkan pada masa depan.

Baca Juga