Bukan Banyaknya Seri, Ritme MotoGP Membuat Marini Sulit Pulih dan Berkembang

Luca Marini menilai padatnya MotoGP tidak dapat diukur hanya dari jumlah seri dalam satu musim. Yang paling membebani, menurutnya, adalah ritme agenda yang menyisakan sangat sedikit ruang untuk pemulihan cedera dan pengembangan fisik.

Rider Honda itu menyebut dirinya tetap harus berlatih sepanjang tahun agar siap membalap. Kondisi tersebut membuat jeda singkat hampir tidak bisa dimanfaatkan untuk menghentikan aktivitas dan memulihkan tubuh secara menyeluruh.

“Faktanya, saat ini kami sama sekali tidak punya waktu. Tidak ada waktu untuk benar-benar memulihkan diri, dan yang lebih penting, tidak ada waktu untuk mempersiapkan diri secara khusus menghadapi musim berikutnya; tidak ada waktu untuk terus berkembang,” ujar Marini.

Pemulihan Cedera Memerlukan Waktu Khusus

Marini menekankan bahwa pebalap membutuhkan energi besar untuk mempertahankan kesiapan bertanding. Namun, ia juga membutuhkan periode yang cukup panjang untuk menangani cedera lama melalui fisioterapi yang lebih spesifik.

“Saya membutuhkan seluruh energi saya untuk siap bertanding, tetapi saya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk menangani cedera lama dengan lebih menyeluruh, misalnya,” katanya. Ia menilai peningkatan kondisi fisik dari musim ke musim tidak dapat dilakukan optimal tanpa program yang memiliki waktu memadai.

Menurut Marini, kebutuhan latihan tidak berhenti hanya karena kalender balapan selesai. Pada akhir Januari, tim-tim sudah kembali menjalani tes di Malaysia sebelum rangkaian pengujian berlanjut ke Thailand.

“Dengan kalender saat ini, tidak ada jeda sama sekali. Saya berlatih sepanjang tahun. Dengan jadwal saat ini, tidak mungkin untuk tidak melakukan apa pun bahkan untuk sesaat,” tutur Marini.

Akhir Musim Tidak Menjadi Masa Rehat Penuh

Gambaran sempitnya waktu rehat tampak pada agenda setelah seri terakhir musim 2026. Valencia dijadwalkan menjadi penutup musim pada 29 November, lalu tes Valencia berlangsung dua hari sesudahnya.

Tes tersebut menjadi bagian awal persiapan menuju musim 2027. Karena itu, jeda akhir tahun bagi rider tidak sepenuhnya bebas dari tuntutan kompetisi dan pengembangan motor.

AgendaWaktuInformasi
MotoGP 202622 seriMasih mungkin menjadi 21 seri
Grand Prix Qatar8 NovemberJadwal pindahan dari April
Balapan Valencia29 NovemberPenutup musim
Tes ValenciaDua hari setelah balapanPersiapan menuju 2027

Marini Menginginkan Keseimbangan Baru

Marini tidak menyatakan keberatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu di paddock selama musim berlangsung. Ia justru mengusulkan agar balapan disusun lebih berdekatan sebagai pertukaran atas jeda musim dingin yang lebih panjang.

“Menurut saya, jadwal sepanjang tahun ini tidak ideal. Saya pikir kita seharusnya menjadwalkan balapan lebih berdekatan dan sebagai gantinya mencoba membuat jeda yang lebih panjang pada musim dingin,” kata Marini kepada SPEEDWEEK.com yang dikutip sport.detik.com.

Ia mengaku menikmati dinamika paddock ketika kompetisi berjalan. Akan tetapi, periode tanpa balapan dinilainya perlu benar-benar memberi kesempatan bagi rider untuk pulih dan menyusun peningkatan performa.

“Di satu sisi, saya menikmati waktu di paddock; selama musim balapan, semuanya sempurna karena selalu berada di sana,” ujarnya. Marini menyatakan bersedia berada lebih lama di lingkungan balap jika jeda musim dingin dapat dibuat cukup.

Status Qatar Belum Sepenuhnya Pasti

Kalender MotoGP 2026 dirancang memuat 22 seri, meski angka itu masih dapat berubah. Grand Prix Qatar menjadi seri yang belum sepenuhnya pasti setelah sebelumnya ditunda akibat konflik di Timur Tengah.

Balapan Lusail semula dijadwalkan pada April lalu dipindahkan ke 8 November. Terlepas dari kemungkinan jumlah seri turun menjadi 21, Marini tetap melihat susunan agenda musim secara keseluruhan sebagai tantangan besar bagi pemulihan rider.

Baca Juga