Rabu Kliwon tercatat dalam petungan Aboge dan Asapon untuk Tahun Be 2026, tetapi fungsinya tidak sama. Perbedaan itu menjadi penanda bahwa keluarga tidak dapat menyamakan daftar hari sangar dari dua sistem kalender Jawa tersebut.
Dalam Aboge, Rabu Kliwon disebut Sangar Ing Tahun. Dalam Asapon, hari yang sama justru menjadi Galengan Tahun.
Kontras tersebut berpengaruh bagi masyarakat yang masih memakai petungan tradisional saat merencanakan hajatan. Akad nikah, lamaran, pindah rumah, pembangunan rumah, hingga pembukaan usaha baru termasuk kegiatan yang kerap mempertimbangkan hari pantangan.
Empat Penanda dalam Masing-Masing Sistem
| Sistem | Penanda | Hari | Catatan |
|---|---|---|---|
| Aboge | Galengan Tahun | Kamis Legi | Pantangan tahunan |
| Aboge | Tali Wangke | Sabtu Pon | Tiga hari setelah 1 Suro |
| Aboge | Sangar Ing Tahun | Rabu Kliwon | Pantangan tahunan |
| Aboge | Jati Ngarang | Sabtu Legi | Pantangan tahunan |
| Asapon | Galengan Tahun | Rabu Kliwon | Pantangan tahunan |
| Asapon | Tali Wangke | Jumat Pahing | Pantangan tahunan |
| Asapon | Sangar Ing Tahun | Selasa Wage | Pantangan tahunan |
| Asapon | Jati Ngarang | Jumat Kliwon | Pantangan tahunan |
Petungan Aboge menempatkan Kamis Legi sebagai Galengan Tahun. Tali Wangke jatuh pada Sabtu Pon dan secara khusus dijelaskan berlangsung tiga hari setelah 1 Suro.
Selain Rabu Kliwon sebagai Sangar Ing Tahun, Aboge juga mencatat Sabtu Legi sebagai Jati Ngarang. Keempat hari itu menjadi acuan bagi warga yang mengikuti perhitungan Aboge.
Asapon memiliki susunan berbeda pada tiga penanda lainnya. Jumat Pahing digunakan untuk Tali Wangke, Selasa Wage untuk Sangar Ing Tahun, dan Jumat Kliwon untuk Jati Ngarang.
Berlaku Selama Tahun Be
Daftar petungan ini disebut berlaku sejak 1 Suro 2026 hingga menjelang 1 Suro 2027. Perbedaan yang muncul berasal dari dasar perhitungan kalender Jawa antara Aboge dan Asapon yang tidak sama.
Karena itu, keluarga yang menjaga tradisi perlu terlebih dahulu menyepakati sistem yang menjadi pegangan. Langkah tersebut membantu menghindari penggunaan daftar pantangan dari sistem yang berbeda ketika menentukan waktu acara.
Bukan Kepastian Terjadinya Musibah
Hari Sangar dalam Primbon Jawa dipahami sebagai waktu yang sebaiknya tidak dipilih untuk memulai urusan besar. Tradisi ini tidak menempatkan hari tertentu sebagai kepastian akan datangnya kesialan.
Penghindaran hari pantangan bagi penganutnya dipandang sebagai bentuk kehati-hatian dan ikhtiar budaya. Praktik tersebut berangkat dari ilmu titen yang diwariskan antargenerasi dalam masyarakat Jawa.
Blitarkawentar.jawapos.com menjelaskan bahwa penataan waktu berdasarkan petungan lebih dekat dengan panduan adat yang diyakini sebagian masyarakat. Penggunaannya tidak bersifat wajib bagi seluruh warga.
Tradisi menentukan hari baik dan pantangan tetap hidup sebagai bagian dari kearifan lokal Nusantara. Perbedaan Aboge dan Asapon menunjukkan bahwa pemaknaan warisan budaya itu dapat berjalan berdampingan dengan sikap saling menghormati.






