Adrien Rabiot hingga Christopher Nkunku memberi AC Milan pilihan yang lebih luas untuk menjalankan skema 3-4-2-1 Ruben Amorim. Keduanya mewakili fleksibilitas di lini tengah dan depan, dua area yang dapat menentukan perubahan pendekatan dalam pertandingan.
Selain mereka, Milan memiliki alternatif di kedua sayap serta lini pertahanan. Kombinasi tujuh pemain multifungsi ini dapat mengurangi kebutuhan mengubah struktur dasar ketika rotasi menjadi keharusan.
Skuad Dibentuk untuk Menghadapi Jadwal Padat
Milan berpotensi menjalani lebih dari 50 pertandingan sepanjang musim. Karena itu, kemampuan pemain berpindah peran dapat membantu tim mengelola cedera, kelelahan, dan kebutuhan taktik yang berbeda.
Menurut Liputan6, beberapa eksperimen posisi telah dilakukan pada masa pramusim. Milan masih memiliki satu pertandingan uji coba sebelum Amorim menetapkan komposisi akhir tim.
| Pemain | Posisi Utama | Opsi Peran Lain |
|---|---|---|
| Adrien Rabiot | Gelandang tengah | Gelandang serang |
| Davide Bartesaghi | Bek sayap kiri | Bek tengah kiri |
| Yunus Musah | Gelandang tengah | Bek sayap |
| Samuel Chukwueze | Gelandang serang kanan | Bek sayap |
| Alexis Saelemaekers | Bek sayap kanan | Bek sayap kiri, gelandang serang |
| Christopher Nkunku | Gelandang serang | Winger, striker, second striker |
| Koni De Winter | Bek tengah | Bek tengah kanan atau kiri |
1. Adrien Rabiot
Rabiot terbiasa bermain sebagai gelandang box-to-box dan diproyeksikan mengisi salah satu tempat di double pivot. Ia juga mempunyai pengalaman sebagai gelandang serang saat bermain di bawah Roberto De Zerbi.
Peran yang lebih maju dapat memberinya kebebasan melakukan tekanan dan menembak. Susunan itu berpotensi memberi ruang bagi Ardon Jashari dan Luka Modric untuk berduet di tengah.
2. Davide Bartesaghi
Bartesaghi dapat mengisi bek sayap kiri dalam susunan Amorim. Ia juga memiliki modal untuk dimainkan sebagai bek tengah kiri karena mampu membangun permainan dari belakang dan memiliki karakter fisik yang sesuai.
Alternatif tersebut membantu Milan ketika Strahinja Pavlovic perlu diistirahatkan. Keseimbangan sisi kiri dapat tetap terjaga tanpa perombakan besar di lini belakang.
3. Yunus Musah
Mobilitas Musah membuatnya dapat digunakan sebagai gelandang tengah atau bek sayap. Peran ganda itu memberi solusi bagi kebutuhan tenaga tambahan di sisi kanan.
Jika Zachary Athekame meninggalkan tim, Musah berpeluang lebih banyak menjalankan tugas tersebut. Ia dapat menjadi pilihan rotasi dalam kompetisi Coppa Italia dan Liga Europa.
4. Samuel Chukwueze
Chukwueze sudah menjalani uji coba sebagai bek sayap, walau adaptasinya masih berlangsung. Pemain berkaki kiri itu juga dapat ditempatkan sebagai gelandang serang di kanan.
Posisi tersebut memungkinkannya bergerak ke tengah dan membangun ancaman. Milan pun mendapatkan alternatif serangan dengan karakter pemain yang tetap ofensif.
5. Alexis Saelemaekers
Saelemaekers dapat beroperasi di bek sayap kanan, bek sayap kiri, atau gelandang serang. Kemampuan memakai kedua kaki, etos kerja, dan kualitas teknis menjadikannya salah satu opsi paling fleksibel.
Ia dapat berpindah tugas ketika dinamika pertandingan berubah. Kontribusinya di sayap juga membantu menjaga intensitas yang dibutuhkan sistem Amorim.
6. Christopher Nkunku
Nkunku memiliki pengalaman sebagai winger, striker, second striker, dan gelandang serang. Ia dapat bermain dari sisi kiri maupun bertukar posisi dengan Christian Pulisic.
Dalam keadaan darurat, Nkunku dapat ditempatkan sebagai penyerang. Keluwesan itu memperkaya pilihan Milan di lini depan.
7. Koni De Winter
De Winter dapat menjadi bagian penting dari pertahanan dengan garis tinggi berkat kemampuan membangun serangan dan kekuatannya dalam duel udara. Ia dapat mengisi posisi bek tengah utama di dalam susunan tiga bek.
Selain itu, De Winter dapat dimainkan di sisi kanan atau kiri pertahanan. Opsi tersebut memberi Milan kedalaman tambahan untuk menjaga konsistensi skema sepanjang musim.






