Setelah 221 Hari Koma, Prichard Colon Tutup Usia Usai Cedera Otak di Ring

Prichard Colon menjalani lebih dari satu dekade hidup dengan dampak cedera otak berat yang membuatnya tidak dapat kembali berbicara. Mantan petinju profesional Puerto Riko itu meninggal dunia pada Kamis, 13 Agustus 2026, dalam usia 33 tahun.

Colon sempat koma sekitar 221 hari setelah mengalami pendarahan hebat di otak pada 2015. Kondisi tersebut berujung pada kerusakan saraf permanen dan kebutuhan perawatan medis berkelanjutan.

Kabar Duka dari Keluarga

Richard Colon, ayah sang petinju, menyampaikan kabar kematian putranya lewat unggahan Facebook pada Kamis pagi. Dalam pesannya, ia menyatakan Colon telah meninggalkan dunia fana.

Pihak berwenang belum merilis penyebab pasti kematian Colon. Kepergiannya memicu duka di kalangan keluarga, penggemar, serta komunitas tinju internasional yang mengikuti kondisinya selama bertahun-tahun.

Presiden WBO Gustavo Olivieri menyampaikan belasungkawa kepada orang tua dan keluarga Colon. Ia menyebut kehidupan Colon ditandai keberanian, ketekunan, serta semangat juang yang luar biasa.

“Istirahatlah dalam damai, Prichard Colon. Kenangan tentangmu akan selamanya tinggal bersama kami,” kata Olivieri.

Jalan Menuju Cedera Berat

Cedera yang mengubah hidup Colon terjadi ketika ia menghadapi Terrel Williams pada 17 Oktober 2015. Pertandingan tersebut berlangsung di Fairfax, Virginia, saat Colon masih membangun kariernya di kelas welter super.

TahapWaktuDampak
Pertandingan melawan Williams17 Oktober 2015Colon menerima sejumlah pukulan ke belakang kepala
Penanganan daruratUsai pertandinganMenjalani hemicraniectomy akibat pendarahan otak
Masa komaLebih dari 200 hariSekitar 221 hari dengan dampak saraf permanen

Dalam laga itu, Colon beberapa kali terkena rabbit punches atau pukulan ke belakang kepala. Pukulan tersebut dikenal sebagai pelanggaran dalam olahraga tinju.

Ia dilaporkan merasa sangat pusing dan sempat mengeluhkan tindakan lawannya. Pertandingan tetap dilanjutkan sampai Colon memilih tidak meneruskan laga sebelum ronde terakhir.

Colon kemudian pingsan di ruang ganti setelah pertandingan berakhir. Ia menjalani prosedur hemicraniectomy untuk mengurangi tekanan di dalam otak akibat pendarahan hebat.

Terrel Williams pernah menyatakan simpati atas kondisi yang dialami Colon. “Saya berdoa untuk pemuda ini,” ujar Williams, seraya mengatakan tidak ada hal lain dalam pertandingan itu yang penting baginya saat itu.

Warisan bagi Dunia Tinju

Sebelum cedera itu, Colon merupakan petinju muda dengan capaian amatir yang diperhitungkan. Ia memenangi sejumlah kejuaraan amatir nasional dan mendapatkan medali emas Pan American Remaja.

Karier profesionalnya dimulai dengan kemenangan atas Xavier La Salle pada 2013. Kemenangan KO atas Vivian Harris pada 2015 turut memperkuat posisinya sebagai petinju yang menjanjikan.

Colon mengakhiri karier dengan rekor 16 kemenangan dan satu kekalahan. Sebanyak 13 kemenangan diraihnya melalui KO, sementara kekalahan tunggalnya tercatat dalam laga melawan Williams.

WBC mengenang Colon sebagai penerima gelar Juara Dunia Kehormatan WBC bersama sabuk Hijau dan Emas. Tragedi tersebut juga mendorong organisasi itu menerapkan toleransi nol terhadap pukulan ke belakang kepala.

Selain memperketat larangan pukulan ilegal, WBC meningkatkan protokol medis pertandingan di berbagai negara. Langkah itu menjadi bagian dari perhatian lebih besar terhadap keselamatan petinju di dalam ring.

Baca Juga