Pengakuan Elon Musk bahwa dirinya terlalu jauh masuk ke politik muncul ketika dua bisnis utamanya menghadapi tekanan berbeda. SpaceX terganggu kegagalan pengujian Starship, sementara Tesla dibayangi pelemahan sentimen konsumen dan biaya ekspansi AI.
Dalam wawancara dengan The Economist yang terbit pekan lalu, Musk menyatakan keterlibatannya di panggung politik Amerika Serikat telah melampaui batas. “Saya terlalu banyak terlibat dalam politik dan, jujur saja, kebablasan,” kata Musk seperti dikutip Futurism pada Senin (27/7/2026).
Starship Menjadi Ujian Besar SpaceX
Tekanan paling nyata bagi SpaceX datang dari kegagalan roket raksasa Starship menyalakan sejumlah mesin pada pekan lalu. Insiden tersebut membuat perusahaan membatalkan uji coba peluncuran perdana setelah penawaran umum perdana atau IPO.
Kegagalan itu memperbesar keraguan investor terhadap ambisi Musk menjadikan SpaceX bernilai sangat besar. Starship diposisikan sebagai proyek penting bagi rencana jangka panjang perusahaan, sehingga kendala pengujian mendapat perhatian luas.
SpaceX juga disebut menghadapi tekanan dari penurunan harga saham yang berlanjut. Perusahaan bahkan dikabarkan menjual daya komputasi kepada pesaing, bukan berada sepenuhnya di garis depan persaingan kecerdasan buatan.
| Bidang | Tekanan yang Dihadapi | Dampak Utama |
|---|---|---|
| SpaceX | Starship gagal menyalakan sejumlah mesin | Uji peluncuran perdana dibatalkan |
| SpaceX | Tekanan harga saham dan persaingan AI | Menjual daya komputasi kepada pesaing |
| Tesla | Respons negatif konsumen | Penjualan kendaraan dilaporkan menurun |
| Tesla | Pengeluaran besar untuk AI | Harga saham tertekan |
Tesla Dihantam Reputasi dan Beban Pengeluaran
Di sisi lain, Tesla menghadapi persoalan yang berkaitan langsung dengan persepsi publik terhadap Musk. Penjualan kendaraan dilaporkan merosot tajam setelah sebagian konsumen merespons negatif perilaku dan komentar kontroversialnya di ruang publik.
Kenaikan pendapatan Tesla baru-baru ini belum cukup mengangkat harga saham perusahaan. Pasar masih mencermati pembengkakan biaya akibat investasi besar di sektor AI serta risiko reputasi terhadap daya tarik merek kendaraan listrik itu.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan bisnis Musk tidak terbatas pada satu proyek teknologi. Kepercayaan investor dan konsumen kini menjadi faktor yang sama pentingnya dengan pengembangan produk dan ambisi ekspansi perusahaan.
Jejak DOGE Memperburuk Sentimen
Penyesalan Musk berkaitan dengan perannya memimpin Department of Government Efficiency atau DOGE pada awal masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Menurut CNBC Indonesia, sejumlah langkah lembaga itu memicu reaksi keras karena dinilai berdampak besar pada institusi publik dan pegawai pemerintah.
| Langkah DOGE | Dampak yang Disebutkan |
|---|---|
| Pemangkasan massal | Puluhan ribu pegawai negeri kehilangan pekerjaan |
| Pemotongan bantuan luar negeri | Anggaran dipangkas drastis hingga memicu dampak fatal |
| Pengelolaan data | Memicu kebocoran data sensitif dan gelombang protes |
| Perubahan lembaga publik | Social Security Administration dan riset ilmiah disebut terdampak |
Rentetan kebijakan itu disebut ikut membentuk citra Musk sebagai salah satu figur yang tidak populer di Amerika Serikat. Konsekuensinya meluas karena citra pribadi sang miliarder membayangi SpaceX dan Tesla.
Keraguan terhadap Perubahan Sikap
Musk menyatakan ingin mengakhiri keterlibatan dalam pembongkaran struktur pemerintahan Trump, tetapi ia belum sepenuhnya menjauh dari isu politik dan geopolitik. The Economist mencatat Musk masih menyerang media yang dinilainya keliru menggambarkannya sebagai sosok rasis serta membela sejumlah pemimpin ekstremis sayap kanan di Eropa.
Di tengah tekanan tersebut, Musk tetap menawarkan gambaran bahwa AI dapat membawa dunia menuju “era kelimpahan luar biasa.” Namun, rekam jejak DOGE serta persoalan di bisnis utamanya membuat pengakuan menyesal itu belum menjawab apakah arah keterlibatannya dalam politik benar-benar akan berubah.






