Bagi sebagian penonton The Sabron Family, masakan yang gagal justru menjadi tontonan yang paling dinantikan. Respons itu menjadi bagian dari warna konten Abdul Hakam Siraj, kreator yang mengaku mampu membeli rumah sendiri sebelum genap berusia 20 tahun.
Hakam membangun audiens melalui situasi rumah tangga yang spontan, bukan dari sajian memasak yang selalu berhasil. Kegagalan kecil di dapur kemudian berubah menjadi unsur hiburan yang kuat bagi pengikutnya.
Ia mengatakan penonton sering tidak memberikan masukan ketika hasil masakannya keliru. “Mereka bukannya kasih masukan, malah senang kalau aku enggak bener masaknya,” kata Hakam.
Hakam bahkan berkelakar bahwa pengikutnya tetap ingin melihat dirinya menggoreng kerupuk. Keinginan tersebut muncul meski ia berusaha memperbaiki kemampuan memasaknya.
Dari Respons Penonton ke Identitas Konten
Konten Hakam mempunyai sejumlah ciri yang terus dipertahankan. Ia hampir selalu tampil mengenakan sarung biru dan menyapa audiens dengan panggilan “Neng”.
Menurut Hakam, sarung biru itu telah menjadi penanda yang dikenal pengikutnya. Sapaan yang digunakan secara berulang juga memperkuat kedekatan antara kreator dan penonton.
The Sabron Family kini memiliki lebih dari 1,4 juta pengikut di TikTok. Jumlah tersebut tumbuh dari konten yang mengangkat humor keluarga, aktivitas dapur, dan percakapan sehari-hari.
Hakam memilih tidak terlalu membebani diri oleh persaingan di antara kreator. Ia memandang naik turunnya jumlah penonton sebagai bagian dari proses berkarya di ruang digital.
Ia juga berusaha tidak tenggelam dalam komentar negatif. Fokusnya tetap pada tujuan awal, yaitu memberikan hiburan melalui kebersamaan keluarga dan kegiatan memasak yang ringan.
Satu Toples Kerupuk yang Berujung Dikenal
Salah satu kejadian yang membuat gaya kontennya mudah diingat adalah percobaan menggoreng kerupuk dalam jumlah besar. Hakam memasukkan satu toples kerupuk sekaligus karena belum mengetahui cara memasak yang tepat.
Peristiwa itu tidak berhenti sebagai kesalahan dapur biasa. Kepolosannya dalam menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan membuat banyak penonton tertawa dan mengenali karakter kontennya.
Dinamika tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik The Sabron Family tidak bergantung pada resep. Penonton lebih mengikuti reaksi, percakapan, dan kekeliruan yang muncul secara alami di antara anggota keluarga.
Berawal dari Gangguan kepada Sang Ibu
Menurut Suara.com, Hakam mula-mula sering mengganggu ibunya ketika sedang memasak. Sang ibu kerap mengomel memakai bahasa khas Surabaya, sementara Hakam mengaku tidak selalu memahami maksudnya.
“Awalnya aku sering usilin Mami kalau lagi di dapur. Mamiku kan orang Arab-Jawa Surabaya, hobinya ngomel pakai bahasa Surabaya,” kenang Hakam.
Interaksi tersebut kemudian diunggah ke media sosial dan berkembang menjadi fondasi konten keluarga. Hakam berasal dari Surabaya dan lahir pada 5 Juli 2007, dengan latar belakang Jawa, Arab, serta Melayu.
Ibunya disebut berasal dari keluarga Arab-Jawa Surabaya. Lulusan SMA Al Azhar itu lalu mengolah kedekatan keluarga dan karakter keseharian mereka menjadi identitas digital.
Di tengah perkembangan kariernya, Hakam menyampaikan rasa syukur atas penghasilan dari konten. “Alhamdulillah, dari hasil konten bisa beli rumah sendiri,” ucapnya.






