Penonaktifan fitur yang dipersoalkan membuat pendapatan harian Phia turun dari sekitar US$ 80.000 menjadi US$ 10.000 hingga US$ 28.000. Perubahan tajam ini memicu sorotan terhadap dugaan bahwa sebagian besar pemasukan perusahaan terkait praktik cookie stuffing.
Startup asisten belanja daring itu dituding menempatkan pelacak afiliasi pada perangkat pengguna tanpa rujukan pembelian yang sah. Praktik tersebut berpotensi membuat Phia memperoleh komisi dari transaksi yang sebenarnya tidak datang melalui tautan rekomendasinya.
| Periode | Pendapatan Harian | Kondisi |
|---|---|---|
| Sebelum fitur dinonaktifkan | US$ 80.000 | Fitur yang dipersoalkan masih aktif |
| Setelah fitur dinonaktifkan | US$ 10.000-US$ 28.000 | Pendapatan turun tajam |
Menurut laporan CNBC Indonesia, perbedaan pendapatan itu menjadi konteks penting dalam menilai model bisnis Phia. Namun, angka tersebut belum dengan sendirinya membuktikan pelanggaran hukum atau kesalahan pidana para pendirinya.
Dugaan Pengambilan Atribusi Komisi
Dalam sistem afiliasi yang normal, platform mendapat komisi setelah konsumen mengeklik tautan rekomendasi dan menyelesaikan pembelian. Komisi diberikan karena afiliator dinilai telah mengarahkan pelanggan ke toko tertentu.
Dugaan terhadap Phia berangkat dari pemasangan cookie pelacak ketika pengguna sedang berbelanja daring. Sistem toko kemudian dapat mencatat Phia sebagai pihak yang membawa pelanggan, walaupun pengguna datang langsung ke situs penjual tanpa mengeklik tautan dari layanan tersebut.
Metode itu dikenal sebagai cookie stuffing. Pelacak afiliasi disisipkan secara diam-diam sehingga atribusi transaksi dapat berpindah kepada pihak yang tidak benar-benar memberi rujukan.
Akibatnya, pemilik program afiliasi berisiko membayar komisi kepada pihak yang tidak berhak. Praktik semacam ini juga dapat merugikan afiliator lain yang secara nyata mengarahkan konsumen kepada penjual.
Pesan Internal Menjadi Sorotan
Phia sebelumnya menyebut persoalan tersebut sebagai “masalah teknis” yang dapat diperbaiki dalam waktu 24 jam. Akan tetapi, pesan internal bertanggal 18 Desember yang bocor disebut menunjukkan bahwa tim perusahaan telah mengetahui keberadaan fitur itu lebih awal.
Dalam pesan tersebut, Phoebe Gates disebut meminta tim teknis memastikan fitur dapat berfungsi di seluruh situs belanja. Sophia Kianni, rekan pendiri Phia, juga disebut meminta agar fitur tetap digunakan meskipun telah ada peringatan mengenai kemungkinan pelanggaran aturan.
Informasi itu memperluas pertanyaan mengenai apakah fitur tersebut sekadar kesalahan sistem atau diterapkan dengan kesadaran dari pihak internal. Belum ada putusan pengadilan yang menetapkan kebenaran dugaan tersebut.
Potensi Konsekuensi Hukum
Pengacara Ariel Givner menilai praktik seperti itu dapat masuk kategori kejahatan federal di Amerika Serikat. Menurut penilaian tersebut, konsekuensinya dapat mencakup penjara maksimal 20 tahun, denda, serta kewajiban mengembalikan dana yang diperoleh secara tidak sah.
Ancaman tersebut masih merupakan penilaian hukum atas dugaan praktik yang dilaporkan. Hingga kini, belum ada informasi mengenai penyidikan resmi terhadap Phoebe Gates maupun pendiri Phia lainnya.
Kasus ini turut menarik perhatian karena eBay tercatat sebagai salah satu investor Phia. eBay pernah menggugat pelaku penipuan serupa yang pada 2014 dijatuhi hukuman lima bulan penjara dan diwajibkan membayar ganti rugi US$ 28 juta.
Phia menyatakan telah memperbaiki sistem dan sedang meninjau seluruh transaksi yang terdampak. Perusahaan belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan penyelidikan hukum yang dapat menyasar para pendirinya.






