Motor listrik nasional yang akan diluncurkan dalam beberapa pekan ke depan diproyeksikan menjadi sarana mobilitas bagi masyarakat, terutama petani. Namun, rencana itu langsung dihadapkan pada sorotan mengenai pasokan baterai, kesiapan produksi, hingga jaminan layanan bagi pengguna.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapan agar petani di berbagai daerah dapat menggunakan motor nol emisi tersebut. Pernyataan itu disampaikan saat Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jumat (17/7/2026).
“Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor. Motor listrik,” kata Prabowo.
Pengumuman ini menjadi sinyal dorongan percepatan industri kendaraan listrik nasional dan transisi energi. Meski demikian, keberhasilan produk tidak hanya ditentukan oleh momentum peluncuran, melainkan kesiapan ekosistem yang mendukung penggunaan sehari-hari.
Rantai Pasok Perlu Kejelasan
Hendro Sutono, pengamat kendaraan listrik dan Juru Bicara Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia, menilai informasi tentang proyek tersebut masih terbatas. Publik belum memperoleh penjelasan lengkap mengenai bentuk kendaraan, spesifikasi teknis, maupun cetak biru pengembangannya.
Ia menilai transparansi diperlukan untuk menjawab pertanyaan dari industri dan calon pengguna. Arsitektur teknologi serta rantai pasok merupakan fondasi yang menentukan arah pengembangan kendaraan dalam jangka panjang.
| Komponen Proyek | Persoalan yang Disorot | Urgensi |
|---|---|---|
| Arsitektur kendaraan | Belum dijelaskan secara terbuka | Menjadi dasar pengembangan produk |
| Sel baterai | Sumber pasokan belum diketahui | Menopang komponen utama kendaraan |
| Mitra manufaktur | Belum diumumkan | Menentukan kesiapan produksi |
| Rantai pasok | Skema pembangunan belum dipaparkan | Menjaga keberlanjutan industri |
“Kita belum tahu dari mana sel baterai disuplai, siapa mitra manufakturnya, atau bagaimana skema rantai pasoknya akan dibangun,” ujar Hendro. Ia menilai kedaulatan kendaraan roda dua dalam skala besar tidak dapat dibangun hanya dengan perakitan komponen dan pemasangan merek lokal.
Hendro juga mengingatkan pentingnya peta jalan yang terukur agar proyek tidak berhenti pada seremoni peluncuran. Sinergi dengan industri baterai nasional di bawah payung Danantara dan Indonesia Battery Corporation atau IBC dinilai perlu diperhatikan.
Harga Bukan Satu-Satunya Pertimbangan
Konsumen roda dua di Indonesia dikenal cermat dalam menentukan kendaraan yang akan digunakan. Selain harga awal, mereka mempertimbangkan keamanan, biaya penggunaan jangka panjang, dan kemudahan memperoleh dukungan ketika kendaraan mengalami masalah.
Garansi, akses suku cadang, dan proses klaim yang lancar menjadi faktor penting bagi calon pemilik. Kejelasan nilai jual kembali serta standar keamanan baterai untuk aktivitas harian yang padat juga akan memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Karena itu, ekosistem kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan jumlah kendaraan yang diproduksi. Ekosistem tersebut juga mencakup kandungan komponen dalam negeri, teknologi baterai, standar keselamatan, dan jaringan layanan purnajual.
Produk baru perlu memberikan pengalaman penggunaan yang dapat diandalkan untuk memperoleh penerimaan pasar. Semangat nasionalisme saja dinilai belum cukup apabila infrastruktur dan layanan setelah pembelian belum siap.
Pengalaman Industri Dalam Negeri
Perjalanan Gesits menawarkan gambaran mengenai tantangan yang dapat dihadapi produk kendaraan listrik buatan Indonesia. Merek tersebut dikembangkan melalui kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan PT WIKA Industri Manufaktur.
Gesits mulai dipasarkan secara komersial pada 2019 dan menjadi salah satu pelopor kendaraan listrik roda dua produksi dalam negeri. Merek ini kemudian menghadapi perubahan kebijakan insentif, keterbatasan rantai pasok, dan persaingan harga dengan merek asal China.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa motor listrik nasional memerlukan proses panjang untuk membangun teknologi, pasokan komponen, dan keyakinan pengguna secara bersamaan. Kesiapan baterai, layanan, dan manufaktur akan menentukan apakah target mobilitas bagi masyarakat dapat diwujudkan secara berkelanjutan.






