Suara Mirip Dengkur Babi Mengungkap Monyet Likweli yang Terjebak di Habitat Sempit

Seekor primata berambut hitam lebat di tengah Republik Demokratik Kongo menarik perhatian ilmuwan karena suaranya yang menggelegar, disebut menyerupai katak atau dengkuran babi. Monyet Likweli juga menghadapi risiko konservasi karena wilayah hidupnya diperkirakan hanya sekitar 1.700 kilometer persegi.

Sebaran yang sangat terbatas membuat populasi satwa ini rentan terdampak perburuan liar serta perubahan fungsi lahan. Ancaman terutama mengemuka di kawasan sekitar wilayah perlindungan yang berbatasan dengan habitatnya.

Populasi banyak berada di kawasan taman nasional

Sebagian besar wilayah jelajah Monyet Likweli berada di dalam Taman Nasional Lomami di bagian tengah Kongo. Kawasan konservasi seluas 8.800 kilometer persegi tersebut melarang aktivitas perburuan di dalam area taman.

Namun, perlindungan di dalam taman belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran terhadap habitat di sekelilingnya. Alih fungsi lahan dan perburuan di kawasan penyangga dapat mengganggu spesies yang tidak tersebar luas ini.

Wawancara di 52 desa yang berbatasan dengan wilayah jelajah Likweli turut memperlihatkan kelangkaannya. Menurut laporan CNN Indonesia, hanya warga di delapan desa yang mengenali primata tersebut.

Temuan itu menunjukkan Likweli hidup secara tersembunyi meski warga setempat memahami beragam jenis primata di sekitar mereka. Kondisi ini juga memperkuat kebutuhan pemantauan terhadap populasi yang mendiami area sempit.

Petunjuk dari Sungai Lomami

Keberadaan Likweli pertama kali memunculkan dugaan pada 2008, ketika tim ekspedisi menyusuri Sungai Lomami. Foto yang didapat saat itu hanya merekam sebagian tubuh seekor monyet, tetapi penampilannya dinilai berbeda.

Satwa itu kemudian kembali terdeteksi pada November 2018 melalui foto yang diambil peneliti lapangan Jean Pierre Kapale. Bersama Lukuru Wildlife Research Foundation, tim melakukan patroli selama 10 bulan dan mencatat tujuh penampakan tambahan.

Penelitian mengenai spesies ini dimuat di jurnal PLOS dengan judul Likweli: A remarkable new species of Colobus monkey from the Lomami National Park, Democratic Republic of Congo. Nama ilmiah yang digunakan ialah Colobus congoensis, sedangkan Likweli merupakan sebutan dari masyarakat setempat.

Nama congoensis dipilih sebagai penghormatan terhadap Cekungan Kongo yang kaya keanekaragaman hayati. Likweli tercatat sebagai spesies monyet Afrika baru kelima yang ditemukan dalam 75 tahun terakhir.

Pemeriksaan anatomi dan DNA

Status Likweli sebagai spesies tersendiri diperiksa melalui sampel kulit, rangka, serta jaringan dari tiga individu yang mati setelah disita dari pemburu liar. Ilmuwan membandingkan bentuk tengkorak dan pola bulunya dengan koleksi museum.

Uji DNA turut menunjukkan perbedaan genetik antara Likweli dan primata lain. Kerabat terdekatnya adalah kolobus hitam yang hidup lebih dari 1.100 kilometer dari wilayah Likweli di Afrika barat-tengah.

Kedua spesies diperkirakan berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar lima juta tahun lalu. Likweli masuk genus Colobus, kelompok monyet Afrika Barat dan Tengah yang mempunyai empat jari pada setiap tangan.

AspekKeterangan
Warna buluHitam lebat, dengan kulit oranye krem di sekitar mulut dan bercak putih di pinggul
Bobot tubuhSekitar 7 kilogram
Panjang tubuh hingga ekorSekitar 1,2 meter dari hidung sampai ujung ekor
Kelompok sosialUmumnya sekitar enam ekor dalam satu kelompok kecil

Tenang di kanopi, tetapi tetap waspada

Likweli hidup di kanopi hutan yang rapat dan biasanya bergerak dalam kelompok kecil. Satwa ini digambarkan tenang, meski tetap waspada ketika manusia memasuki area tempat mereka berada.

Para peneliti menyatakan, “Saat kami berpapasan dengan kelompok ini, mereka tidak langsung kabur seperti jenis primata lainnya.” Mereka justru memanjat lebih tinggi ke kanopi hutan dan mengamati manusia dari atas.

Sepanjang 2018 hingga 2022, peneliti mencatat 114 pengamatan lapangan terhadap Likweli. Meski demikian, pola makan dan perilakunya masih belum sepenuhnya dipahami.

Kajian genomik lanjutan diharapkan dapat menjelaskan sejarah evolusi spesies ini sekaligus perannya dalam ekosistem primata Afrika. Data tersebut juga penting untuk mendukung langkah perlindungan di sekitar Taman Nasional Lomami.

Baca Juga