Manajemen hingga Akuntansi Masuk 5 Besar Pengangguran Sarjana, Ini Maknanya

Manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, dan akuntansi menjadi lima bidang studi yang paling banyak ditemukan di kelompok pengangguran minimal S1. Manajemen memimpin daftar dengan porsi 10,3%, sedangkan akuntansi berada di posisi kelima dengan 5,1%.

Daftar ini tidak menunjukkan bahwa kelima jurusan tersebut memiliki prospek kerja paling buruk. Angkanya menggambarkan komposisi penganggur berpendidikan tinggi berdasarkan bidang studi, bukan tingkat pengangguran lulusan masing-masing jurusan.

1. Manajemen

Manajemen menjadi bidang dengan porsi tertinggi, yakni 10,3% dari pengangguran lulusan minimal S1. Bidang ini mencakup pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, aset, dan industri.

Posisi kerja awal yang dapat dilamar lulusan manajemen juga terbuka bagi banyak disiplin lain. Persaingan dapat datang dari lulusan rumpun bisnis, ekonomi, hukum, komunikasi, dan bidang terkait.

2. Hukum

Hukum menempati peringkat kedua dengan porsi 9,0%. Data tersebut menempatkannya di atas ekonomi, pendidikan, serta akuntansi dalam kelompok pengangguran minimal S1.

Tidak ada perincian mengenai jenis pekerjaan atau faktor spesifik yang melatarbelakangi angka tersebut. Karena itu, porsi lulusan hukum dalam kelompok penganggur tidak dapat diperlakukan sebagai tingkat pengangguran bidang hukum.

3. Ekonomi

Ekonomi berada di posisi ketiga dengan kontribusi 8,7%. Cakupan pekerjaan bidang ini cukup luas, sementara lulusannya juga bersaing pada berbagai kebutuhan rekrutmen tingkat awal.

Kecocokan kompetensi dengan kebutuhan perusahaan menjadi salah satu faktor yang menentukan. Kondisi itu berlaku di luar pertimbangan nama jurusan yang tercantum pada ijazah.

4. Pendidikan

Pendidikan menyumbang 7,1% dari kelompok pengangguran berpendidikan minimal S1. Rumpunnya mencakup pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi, hingga pendidikan vokasi.

Penyerapan lulusan dipengaruhi kebutuhan sekolah di tiap wilayah, pola rekrutmen guru, formasi yang tersedia, dan persyaratan profesi. Situasi tersebut membuat jalur masuk kerja lulusan pendidikan memiliki faktor yang beragam.

5. Akuntansi

Akuntansi melengkapi lima besar dengan porsi 5,1%. Lima bidang ini secara gabungan mencakup sekitar 40% dari total pengangguran minimal S1.

Angka tersebut tetap tidak bisa dipakai untuk menyebut akuntansi sebagai bidang dengan risiko pengangguran tertinggi. Pengukuran yang tepat membutuhkan jumlah keseluruhan angkatan kerja lulusan akuntansi sebagai pembanding.

PeringkatBidang StudiPorsi Pengangguran Minimal S1
1Manajemen10,3%
2Hukum9,0%
3Ekonomi8,7%
4Pendidikan7,1%
5Akuntansi5,1%

Cara Membaca Angka Pengangguran Lulusan

Analisis yang menggunakan Sakernas Agustus 2025 ini tercantum dalam laporan LPEM FEB UI berjudul Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?. Laporan itu ditulis Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah.

Suatu bidang studi dapat memiliki porsi tinggi karena jumlah lulusannya memang besar. Untuk menilai risiko menganggur, jumlah penganggur dari bidang tersebut harus dibandingkan dengan seluruh angkatan kerja dari bidang studi yang sama.

Dengan metode itu, porsi besar dalam daftar tidak serta-merta menjadi penanda bahwa suatu jurusan paling sulit memperoleh pekerjaan. Data ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran bidang studi yang dominan di antara penganggur terdidik.

Informatika Juga Perlu Diperhatikan

Ilmu komputer atau informatika memiliki porsi sekitar 4,6% di luar lima besar. Temuan ini menarik karena sektor teknologi sering dipandang menawarkan prospek pekerjaan yang menjanjikan.

Kebutuhan industri teknologi dapat berubah dengan cepat. Peluang lulusan dipengaruhi mutu pendidikan, keterampilan praktis, pengalaman kerja, dan penguasaan teknologi yang dibutuhkan perusahaan.

Tekanan Overeducation

LPEM FEB UI juga mencatat sekitar 8 juta sarjana bekerja pada pekerjaan yang memerlukan pendidikan lebih rendah. Kondisi yang disebut overeducation ini mengindikasikan pertumbuhan tenaga kerja terdidik belum sepenuhnya diimbangi penciptaan pekerjaan profesional berketerampilan tinggi.

Perencanaan perguruan tinggi baru dinilai perlu mempertimbangkan kompetensi yang masih kurang, kebutuhan sektor dan wilayah, serta posisi lulusan di pasar kerja. Penguatan mutu kampus yang telah ada dan hubungan pendidikan dengan dunia kerja juga menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.

Baca Juga