Kang Maman Ingatkan Bahagia Tak Datang dari Membandingkan Hidup di Media Sosial

Kebahagiaan tidak dapat dibangun dengan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran. Penulis Maman Suherman atau Kang Maman mengingatkan bahwa kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial justru dapat menjauhkan seseorang dari pemahaman yang lebih sehat tentang bahagia.

Ia menegaskan, rasa bahagia tidak muncul hanya karena menyaksikan keberhasilan maupun kesulitan pihak lain. Menurutnya, sumber kebahagiaan perlu tumbuh dari diri sendiri.

“Kebahagiaan itu bukan dengan melihat kebahagiaannya orang lain atau melihat penderitaannya orang lain, tapi justru datang dari dirinya sendiri,” imbuh Kang Maman. Pandangan itu ia sampaikan saat peluncuran Pengantar Kebahagiaan di Jakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Potongan Layar Tidak Selalu Utuh

Media sosial dapat membantu pengguna memperoleh pengetahuan, inspirasi, dan hiburan. Namun, manfaat tersebut dapat berubah ketika pengguna lebih sering mencari pemenuhan emosi dari unggahan tentang kehidupan orang lain.

Apa yang muncul di layar sering kali berupa potongan pengalaman yang telah dipilih dan dikemas. Tampilan itu tidak selalu menunjukkan kondisi seseorang secara menyeluruh, tetapi tetap dapat mendorong penilaian terhadap kehidupan pribadi.

Keinginan untuk merasa lebih baik dibandingkan orang lain, menurut Kang Maman, tidak akan menghasilkan kebahagiaan yang dicari. Perbandingan sosial juga berpotensi mengalihkan perhatian dari pengalaman yang sedang berlangsung dalam kehidupan sendiri.

Dalam bentuk yang lebih intens, doom scrolling membuat seseorang mudah melompat dari satu konten ke konten lainnya tanpa tujuan jelas. Paparan berita, hiburan, dan unggahan yang tidak putus dapat memicu kekhawatiran serta memenuhi pikiran.

Buku sebagai Ruang Memperlambat Diri

Kang Maman menawarkan membaca buku sebagai cara untuk berhenti sejenak dari kecepatan arus informasi tersebut. Aktivitas ini mengharuskan pembaca mengikuti gagasan secara utuh, bukan hanya melewati informasi dalam hitungan detik.

Pembaca dapat memahami alur, mencerna pesan, dan menguji kembali pemikiran yang selama ini dianggap benar. Proses itu membuka kesempatan untuk melihat pengalaman manusia dari sudut pandang yang berbeda.

Keterbukaan terhadap pandangan lain menjadi penting karena sikap merasa paling benar dapat menghambat hubungan dengan sekitar. “Karena yang paling tidak bikin bahagia orang itu kan adalah merasa pendapat dia paling benar dan orang lain semuanya salah,” ujar Kang Maman.

Ia menilai sikap tersebut berisiko membuat seseorang tenggelam dalam khayalannya sendiri. Kehidupan orang-orang di sekelilingnya pun dapat luput dari perhatian.

Empati dalam Gagasan Kebahagiaan

Bagi Kang Maman, kebahagiaan juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Empati membuat seseorang mampu merasakan keadaan orang lain dan tidak terpaku pada kenyamanan pribadi.

“Kebahagiaan sejati adalah kita melihat orang lain bahagia, kita ikut bahagia. Ketika orang lain bersedih, kita ikut berempati,” tuturnya.

Buku Pengantar Kebahagiaan diterbitkan Grasindo dan dibuat Kang Maman bersama Mice Cartoon yang menerjemahkan gagasan tersebut melalui ilustrasi. Pengerjaannya turut melibatkan tulisan, riset, survei, serta dukungan dari berbagai pihak.

Pesan kolaborasi menjadi bagian dari ajakan yang disampaikan kepada generasi muda. Kang Maman mengingatkan bahwa menghadapi kondisi hari ini tidak harus dilakukan sendirian.

“Kata kunci untuk menghadapi kondisi hari ini adalah yuk, kolaborasi,” kata Kang Maman. Ajakan itu menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian dari upaya memahami kebahagiaan secara lebih luas.

Baca Juga