Keterbatasan tenaga ahli keamanan siber menjadi risiko yang semakin penting di tengah percepatan transformasi digital Indonesia. PT ITSEC Asia Tbk dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI merespons kondisi itu melalui rencana pengembangan kapabilitas keamanan digital serta pembentukan ITSEC Cyber & AI Academy.
Kolaborasi tersebut menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai bagian dari pertahanan digital nasional. Sasaran utamanya adalah kebutuhan BUMN dan instansi pemerintahan yang harus melindungi infrastruktur serta data penting.
Akademi yang disiapkan kedua perusahaan tidak hanya berfokus pada sertifikasi. Programnya diarahkan untuk membangun kemampuan aplikatif melalui pelatihan, workshop, seminar, dan pengembangan kompetensi tingkat lanjut.
Talenta dan Infrastruktur Disiapkan Bersamaan
Pengembangan talenta berjalan beriringan dengan eksplorasi Security Operations Center atau SOC yang lebih mutakhir. SOC dirancang untuk membantu organisasi mendeteksi ancaman secara waktu nyata dengan memadukan keahlian teknis dan teknologi terbaru.
Pemantauan keamanan dengan pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman digital yang terus berubah. Karena itu, ITSEC Asia dan PT INTI ingin mengeksplorasi penggunaan kecerdasan buatan serta sistem pemantauan aktif yang lebih otonom.
| Pihak | Peran Kolaborasi | Sasaran |
|---|---|---|
| ITSEC Asia | Mengeksplorasi kapabilitas keamanan siber dan pengembangan akademi | BUMN dan instansi pemerintahan |
| PT INTI | Mendorong solusi keamanan yang lebih komprehensif | Kapabilitas nasional dan ekosistem digital |
| ITSEC Cyber & AI Academy | Menyusun pelatihan dan kompetensi lanjutan | Talenta keamanan siber dan AI |
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menilai keamanan digital telah menjadi fondasi keberlangsungan organisasi. Menurutnya, perlindungan infrastruktur dan data harus didukung tenaga yang mampu mengelola sistem keamanan tersebut.
“Organisasi membutuhkan kemampuan untuk melindungi infrastruktur dan data mereka sekaligus memastikan adanya sumber daya manusia yang mampu mengelola keamanan tersebut,” ujar Patrick Dannacher dalam keterangan resminya. Ia menyebut kerja sama dengan PT INTI diarahkan untuk mengeksplorasi dukungan bagi sektor BUMN dan pemerintahan.
Pembelajaran Berbasis Tantangan Lapangan
ITSEC Cyber & AI Academy akan memakai pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada persoalan nyata. Kurikulumnya diarahkan untuk menggeser proses dari sekadar mempelajari teori menuju praktik langsung.
Pendekatan tersebut dipandang relevan karena AI semakin berperan dalam lanskap serangan siber. Teknologi ini juga dipertimbangkan sebagai pendukung pemantauan serta respons terhadap ancaman yang berkembang cepat.
Direktur PT INTI, Herry Jasman, menyatakan keamanan siber merupakan fondasi penting transformasi digital. Ia menilai sinergi dengan ITSEC Asia menjadi langkah untuk memperkuat kapabilitas nasional melalui solusi yang lebih menyeluruh.
“Keamanan siber telah menjadi fondasi penting dalam transformasi digital,” kata Herry Jasman. Kolaborasi ini juga ditujukan untuk membangun ekosistem yang dapat menjawab kebutuhan pemerintah dan BUMN.
Menjaga Kendali atas Infrastruktur Kritis
President Director ITSEC Cyber & AI Academy, Yulius C. Rusli, menekankan pengembangan talenta perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata industri. Kolaborasi dengan PT INTI diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi BUMN dan instansi pemerintah untuk meningkatkan kompetensi di bidang keamanan siber dan AI.
Pembangunan fasilitas SOC dan pusat pelatihan AI di dalam negeri juga membawa agenda kemandirian teknologi. Kesiapan tenaga ahli dan infrastruktur pertahanan digital akan menentukan kemampuan organisasi mengelola risiko selama transformasi digital berlangsung.






