Bukan Reggae Biasa, Ingin Setia Jadi Langkah Awal Aziz Padurasta dengan Vokal Rock

Reggae menjadi fondasi, tetapi bukan satu-satunya warna yang ditawarkan Aziz Padurasta dalam Ingin Setia. Singel debut ini menggabungkan karakter vokal rock dan gaya punk untuk membentuk pembawaan yang berbeda dari reggae konvensional.

Perbedaan itu menjadi penanda awal identitas musikal Aziz. Ia memperkenalkan musik yang bergerak santai dalam ritme reggae, tetapi tetap membawa tekanan ekspresi dari rock dan kesan nyentrik punk.

Ingin Setia akan tersedia di seluruh platform digital mulai 14 Agustus 2026. Rilisan tersebut menjadi debut Aziz melalui Prema Svara Records.

Energi musik dari kolaborasi instrumen

Proses produksi singel ini berlangsung di Beatlabs Studio. Aziz melibatkan Billy “Tipe-X” pada gitar dan Boim “Gangstarasta” pada drum untuk memperkuat bangunan aransemen.

Pengisi InstrumenBagian yang Diisi
Billy “Tipe-X”Gitar
Boim “Gangstarasta”Drum

Gitar dari Billy “Tipe-X” dan drum dari Boim “Gangstarasta” memberi dorongan pada energi lagu. Menurut informasi yang dimuat Suara.com, produksi di Beatlabs Studio mempertemukan elemen reggae, permainan gitar, dan drum dalam penggarapan singel tersebut.

Kolaborasi itu melengkapi pilihan musikal Aziz yang tidak membatasi diri pada satu jalur genre. Reggae memberi ruang pada alur aransemen, sementara warna rock dan punk memperjelas emosi yang ingin dibawa lagu.

Keinginan untuk menjaga kepercayaan

Di tengah aransemen lintas genre itu, Ingin Setia mengangkat kegagalan dalam menjaga sebuah komitmen. Lagu tersebut menyampaikan bahwa kesalahan tidak selalu menutup kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Aziz menulis sendiri liriknya dengan mengambil inspirasi dari peristiwa yang kerap dirasakan banyak orang, termasuk dirinya. Ceritanya berpusat pada sosok yang menyesal setelah melakukan kekeliruan, lalu berusaha memperbaiki keadaan.

Makna kesetiaan dalam lagu ini tidak terbatas pada relasi romantis. Liriknya juga menyentuh cara seseorang menepati janji, memberi perhatian, menghargai waktu, serta tidak mengabaikan hal kecil yang penting bagi kepercayaan.

Pendekatan tersebut membuat tema lagu terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Perubahan tidak digambarkan lewat tindakan besar semata, melainkan melalui kesediaan merawat komitmen secara konsisten.

Ingin Setia juga tidak menghindari sisi manusia yang rapuh ketika berhadapan dengan kegagalan. Justru, keberanian mengakui kekeliruan dan tidak menyerah untuk membenahi hubungan menjadi inti emosinya.

Dengan perpaduan reggae, vokal rock, dan gaya punk, Aziz Padurasta menempuh jalur pembuka yang khas. Debut ini memperlihatkan bagaimana pesan tentang penyesalan dapat disampaikan melalui musik yang tetap memiliki energi dan karakter kuat.

Baca Juga