Gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah dan sedikitnya 16 fasilitas umum. Dampak terparah pada data awal terlihat di Kabupaten Manggarai, yang juga mencatat jumlah korban meninggal terbanyak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan 54 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan. Pendataan kerusakan serta verifikasi kondisi bangunan masih dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Permukiman dan Fasilitas Pelayanan Terdampak
Manggarai mencatat 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan. Wilayah ini juga melaporkan kerusakan pada lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan.
Manggarai Timur mencatat 23 rumah rusak berat. Sementara itu, Nagekeo melaporkan dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan dua rumah rusak ringan.
| Jenis Kerusakan | Jumlah | Rincian |
|---|---|---|
| Rumah rusak berat | 54 unit | 29 di Manggarai dan 23 di Manggarai Timur |
| Rumah rusak sedang | 9 unit | Seluruhnya tercatat di Manggarai |
| Rumah rusak ringan | 11 unit | 9 di Manggarai dan 2 di Nagekeo |
| Fasilitas umum terdampak | 16 unit | Kesehatan, pendidikan, ibadah, Bulog, dan pemerintahan |
Kerusakan fasilitas di Nagekeo meliputi dua fasilitas ibadah rusak ringan dan lima kantor pemerintahan terdampak. Gangguan lain di wilayah itu berupa kemacetan lalu lintas dan pemadaman listrik.
Di wilayah terdampak lain, petugas juga mencatat kerusakan pada satu gudang Bulog dan tiga fasilitas ibadah. Seluruh catatan kerusakan masih bersifat sementara.
Korban Jiwa Mencapai 14 Orang
Hingga pukul 12.30 WIB, BNPB mencatat 14 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut. Selain itu, dua orang mengalami luka berat dan 11 orang mengalami luka ringan.
Kabupaten Manggarai mencatat enam korban meninggal, disusul Manggarai Timur dengan lima korban dan Sikka dengan tiga korban. Korban luka juga dilaporkan dari Nagekeo.
| Kabupaten | Meninggal | Luka Berat | Luka Ringan |
|---|---|---|---|
| Sikka | 3 orang | – | 2 orang |
| Manggarai | 6 orang | 1 orang | 2 orang |
| Manggarai Timur | 5 orang | 1 orang | 5 orang |
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan data korban masih melalui proses pendataan dan validasi. “Sebanyak 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan,” katanya.
Perubahan angka masih mungkin terjadi setelah laporan dari BPBD dan unsur terkait dihimpun. Penanganan terhadap warga terdampak dilakukan bersamaan dengan penilaian kerusakan bangunan.
Guncangan Kuat Berasal dari Laut Dekat Mbay
Gempa utama terjadi pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, dengan pusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur. Titik gempa berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan kuat selama kurang lebih satu menit dirasakan di Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, dan Kota Bima. Getaran juga menjangkau Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan.
Peringatan dini tsunami sempat diterbitkan setelah gempa dan mendorong sekitar 2.000 warga mengungsi atau mengevakuasi diri. BMKG mengakhiri peringatan pada pukul 07.31.30 WIB setelah tidak terdeteksi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan.
Sedikitnya empat gempa susulan dengan kekuatan antara magnitudo 5,5 hingga 6,2 tercatat setelah gempa utama. Seluruh gempa susulan tersebut dinyatakan tidak berpotensi tsunami.
Kebutuhan Warga Mulai Didata
BPBD bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan instansi terkait meneruskan kaji cepat serta penanganan darurat. Kebutuhan di Manggarai mencakup tenda pengungsi, tenda posko, beras, obat-obatan, velbed, selimut, tikar, peralatan dapur, tandon air, genset, handy talky, dan senter.
BNPB meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menjauhi bangunan retak atau rusak untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.






