Fosil ular berusia sekitar 80 juta tahun yang ditemukan di São Paulo, Brasil, memperlihatkan bahwa evolusi awal ular tidak berjalan dalam satu pola habitat. Spesies bernama Tametara mirim itu memiliki tanda kuat sebagai hewan penggali tanah, sementara ular purba lain hidup di permukaan terbuka.
Temuan tersebut memberi konteks baru bagi perdebatan panjang tentang alasan leluhur ular kehilangan tungkai. Bukti dari Brasil menunjukkan gaya hidup bawah tanah sudah muncul sangat awal, tetapi bukan satu-satunya jalur yang ditempuh ular purba.
Perbandingan Dua Ular Era Kapur
Para peneliti membandingkan Tametara mirim dengan Dinilysia patagonica, ular dari era Kapur yang fosilnya ditemukan di Argentina. Keduanya sama-sama penting karena menyediakan gambaran rinci mengenai variasi anatomi pada garis awal evolusi ular.
| Spesies | Lokasi Fosil | Petunjuk Habitat | Ciri Utama |
|---|---|---|---|
| Tametara mirim | São Paulo, Brasil | Bawah tanah | Tengkorak tebal, penglihatan berkurang |
| Dinilysia patagonica | Argentina | Permukaan tanah terbuka | Struktur tulang dan otak berbeda |
Dinilysia patagonica tidak memperlihatkan ciri sebagai penggali tanah. Struktur tulang dan otaknya justru mengarah pada kehidupan di lingkungan permukaan yang lebih terbuka.
Dr. Roy Ebel dari Museums Victoria Research Institute menyatakan bahwa dua ular purba tersebut memiliki otak yang lebih berbeda dibandingkan sebagian besar garis keturunan ular modern. Ia menegaskan bahwa Dinilysia patagonica bukan penggali tanah dan hidup di permukaan.
Jejak Kehidupan di Bawah Permukaan
Berbeda dari kerabat pembandingnya, Tametara mirim memiliki tengkorak tebal dan padat. Susunan tulang seperti itu lazim ditemukan pada hewan fossorial atau penggali tanah karena dapat memperkuat kepala saat menghadapi tekanan lapisan tanah.
Pola tulang padat serupa juga berkembang secara terpisah pada sejumlah kelompok kadal penggali. Karena itu, anatomi kepala fosil dari Brasil dipandang sebagai petunjuk adaptasi terhadap kehidupan di habitat gelap bawah permukaan.
Pemindaian CT beresolusi tinggi membantu peneliti merekonstruksi rongga otak, saraf tengkorak, dan telinga dalam spesimen tersebut. Hasilnya membuat fosil ini menjadi salah satu ular purba dengan gambaran anatomi otak paling lengkap yang dapat dipelajari.
Ebel mengatakan, “Pusat penglihatan yang berkurang dan otak depan yang disederhanakan mengarah pada hal yang sama dengan tulangnya: bawah tanah.” Keterangan itu menghubungkan bentuk tengkorak dengan perubahan pada bagian otak yang berkaitan dengan penglihatan.
Spesimen Utuh dari São Paulo
Fosil ini ditemukan pada 2020 dan tertanam dalam batuan di negara bagian São Paulo. Mediaindonesia.com melaporkan bahwa spesimen tersebut merupakan fosil ular pertama di Brasil yang tulangnya masih terhubung dalam susunan asli.
Kondisi yang relatif utuh memberi kesempatan untuk memeriksa bagian tubuh yang jarang bertahan pada fosil ular purba. Spesimen ini juga disebut sebagai salah satu fosil ular era Mesozoikum terbaik yang pernah ditemukan di dunia.
Penelitian mengenai Tametara mirim diterbitkan dalam jurnal Nature pada 22 Juli 2026. Studi itu tidak menutup seluruh perdebatan mengenai hilangnya tungkai, tetapi memperkuat bukti bahwa sebagian ular awal telah beradaptasi sebagai penggali tanah.
Pada era dinosaurus, satu garis keturunan kadal kehilangan anggota tubuh dan mengembangkan bentuk badan memanjang. Fosil Brasil tersebut menunjukkan perubahan itu kemudian berlangsung bersama berbagai eksperimen ekologis, termasuk hidup di bawah tanah dan di permukaan.
Keragaman purba ini sejalan dengan lebih dari 4.200 spesies ular modern yang mencakup penghuni darat, penggali tanah, dan ular laut. Evolusi ular tampaknya bukan kisah adaptasi terhadap satu lingkungan, melainkan sejarah percabangan cara hidup yang telah dimulai sejak sangat awal.






