Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Laut Merah menambah risiko inflasi global, tetapi emas justru menguat tajam. Pada Kamis (23/7/2026), harga emas spot menembus US$ 4.125,5100 per ons troi.
Reli tersebut mencerminkan respons pasar terhadap konflik Timur Tengah yang belum mereda. Investor memburu aset aman sambil memperhitungkan kemungkinan suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi lebih lama.
Perubahan Rute Kapal Memicu Kekhawatiran
Tiga kapal tanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India dilaporkan berbalik arah di Laut Merah. Langkah itu dikaitkan dengan ancaman kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.
Perubahan rute kapal memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi dan mendorong harga minyak dunia. Kenaikan minyak berpotensi mengerek inflasi, yang kemudian dapat mempersulit pelonggaran kebijakan moneter.
Situasi ini membuat pasar emas menghadapi dua kekuatan berbeda dalam waktu bersamaan. Konflik mendorong kebutuhan perlindungan aset, sedangkan inflasi yang meningkat dapat menopang suku bunga pada level tinggi.
Analis Senior ActivTrades Ricardo Evangelista menilai kedua sentimen tersebut masih saling menyeimbangkan. “Kekhawatiran bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama diimbangi oleh permintaan aset aman,” kata Evangelista.
Diplomasi dan Volatilitas Menjadi Penentu
Harapan de-eskalasi melalui diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat membantu mengurangi tekanan pada harga minyak. Namun, Evangelista menilai reli emas dapat menghadapi tekanan apabila volatilitas pasar energi meningkat.
Perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan The Fed pekan depan. Keputusan dan panduan bank sentral Amerika Serikat akan menjadi salah satu penentu penting bagi pergerakan emas setelah kenaikan terbaru.
Menurut jajak pendapat Reuters, mayoritas ekonom memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir 2026. Data CME FedWatch juga menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 68%.
Pasar memperhitungkan peluang dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir Maret tahun depan. Kondisi bunga tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak menghasilkan imbal hasil.
Logam Mulia Lain Ikut Menguat
Sentimen positif juga terlihat pada perak, platinum, dan paladium. Kenaikan serentak tersebut berlangsung ketika emas spot pada perdagangan Rabu (22/7/2026) telah naik sekitar 1% menjadi US$ 4.115,89 per ons.
| Komoditas | Perubahan | Harga per Ons |
|---|---|---|
| Emas spot | Naik sekitar 1% | US$ 4.115,89 |
| Perak spot | Naik 1% | US$ 59,35 |
| Platinum | Naik 1,1% | US$ 1.646,63 |
| Paladium | Naik 1,8% | US$ 1.305,41 |
Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus turut ditutup menguat 1,1% menjadi US$ 4.120,60 per ons pada Rabu. Data Bloomberg menunjukkan kenaikan pada Kamis melanjutkan penguatan tajam setelah emas mendekati level tertinggi dalam dua pekan.
Area US$ 4.000 per ons masih dipandang sebagai dukungan teknikal yang kuat setelah koreksi dari rekor tertinggi pada Januari. Pergerakan harga berikutnya akan tetap bergantung pada konflik Timur Tengah, dinamika minyak, dan arah kebijakan The Fed.






