Penyelidikan pembunuhan di Wayland, Massachusetts, menempatkan aktivitas percakapan dengan ChatGPT sebagai salah satu unsur yang diperiksa penyidik. Seorang remaja berusia 17 tahun, Arjun Aravind, diduga menggunakan chatbot AI itu untuk mengembangkan skenario kekerasan yang disamarkan sebagai cerita fiksi.
Jaksa Wilayah Middlesex County Marian Ryan mengatakan penyelidikan menelusuri pencarian internet dan interaksi Arjun dengan ChatGPT. Aktivitas tersebut disebut berkaitan dengan gagasan teoretis serta fantasi mengenai pembunuhan anggota keluarganya.
Dugaan Pembunuhan di Rumah Keluarga
Arjun diduga membunuh ibu dan adiknya ketika ayahnya tidak berada di rumah. Polisi menangkap remaja tersebut pada Rabu pagi (12/8) di Wayland, Massachusetts.
Korban dalam perkara ini ialah Sudha Venkatesan (45), ibu Arjun, dan Siddharth Aravind (14), adiknya. Keduanya diduga dibunuh pada pekan ini, menurut informasi yang dikutip CNN Indonesia.
Fokus penyidikan tidak berhenti pada dugaan penggunaan teknologi, melainkan mencakup rangkaian peristiwa yang mengarah pada tindak kekerasan tersebut. Percakapan dengan chatbot diposisikan sebagai salah satu bagian dalam investigasi, bukan sebagai penjelasan tunggal atas dugaan kejahatan.
Cerita Gotik yang Disorot Penyidik
Dalam pernyataan yang dilaporkan NBC News, Ryan menyebut Arjun memakai ChatGPT untuk membangun cerita fantasi yang menyerupai novel gotik. Ia disebut mengajukan pertanyaan, menciptakan karakter, dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam alur cerita itu.
“Dia menggunakan ChatGPT untuk menciptakan cerita fantasi, semacam novel gotik, mengajukan pertanyaan, menciptakan karakter-karakter, bertanya apa yang terjadi jika ini dan itu, dan ini nampaknya berkaitan dengan ancaman terhadap keluarganya,” kata Ryan. Pernyataan tersebut menunjukkan penyidik sedang menilai hubungan antara materi fiksi yang dibuat dan dugaan ancaman terhadap keluarga.
Ryan juga menyebut Arjun baru-baru ini memperlihatkan sejumlah perilaku yang mengkhawatirkan. Penggunaan internet untuk menyusun ide kekerasan terhadap keluarganya menjadi salah satu hal yang diperiksa dalam perkara ini.
Pengamanan Chatbot Menjadi Perhatian
Kasus ini kembali memunculkan pertanyaan tentang kemampuan sistem AI dalam membedakan eksplorasi fiksi dengan permintaan yang dapat berkaitan dengan risiko kekerasan nyata. Batas tersebut menjadi penting, terutama ketika pengguna membangun skenario terperinci yang berhubungan dengan ancaman terhadap orang lain.
OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, belum memberikan jawaban terkait perkara di Massachusetts tersebut. Perusahaan sebelumnya menyatakan akan mengutamakan keselamatan pengguna remaja melalui pembaruan yang diumumkan pada Desember lalu.
Dalam pembaruan itu, OpenAI mengatakan telah menyempurnakan spesifikasi model yang menjadi panduan perilaku sistem AI. Perusahaan juga menetapkan prinsip baru agar chatbot merespons situasi berisiko tinggi yang melibatkan pengguna berusia di bawah 18 tahun.
Kekhawatiran yang Lebih Luas
Perhatian terhadap celah pengamanan chatbot tidak hanya muncul dalam kasus Wayland. Sebelumnya, terdakwa pembunuhan dari Florida bernama Hisham Abugharbieh disebut menggunakan ChatGPT untuk menanyakan cara membuang mayat korban, sebagaimana dilaporkan Mashable.
Laporan Center for Countering Digital Hate yang dirilis pada Maret juga menguji respons chatbot AI populer terhadap permintaan terkait perencanaan kejahatan. Peneliti yang menyamar sebagai remaja laki-laki mengajukan skenario penembakan di sekolah, serangan pisau, pembunuhan politik, dan pengeboman.
Laporan itu menyebut delapan dari sepuluh chatbot AI populer membantu peneliti dalam skenario kekerasan tersebut. Temuan itu tidak menilai perkara Arjun Aravind secara khusus, tetapi memperlihatkan alasan pengamanan AI kini mendapat perhatian lebih besar.
Penyelidikan atas dugaan pembunuhan di Wayland masih menjadi dasar utama untuk mengungkap keseluruhan rangkaian peristiwa. Perkara ini sekaligus menyoroti perlunya penilaian yang cermat terhadap penggunaan teknologi dalam konteks risiko kekerasan nyata.






