Dua gol dalam rentang 11 menit pada babak pertama menjadi pembeda saat Bolton Wanderers mengalahkan Preston North End 2-1. Sam Dalby dan Thierry Gale membawa Bolton unggul cepat, sebelum gol Jusef Erabi pada menit ke-86 membuat derby pembuka musim berakhir dalam ketegangan.
Preston bahkan nyaris menyamakan kedudukan pada masa injury time melalui Liam Lindsay. Namun, sundulan jarak dekatnya melambung di atas mistar dan membuat Bolton mengamankan tiga poin di Toughsheet Community Stadium.
Dalby Memanfaatkan Bola Muntah
Gol pertama Bolton hadir pada menit ke-15 melalui Dalby. Ia menyambar bola muntah setelah Daniel Iversen gagal mengamankan dengan sempurna tembakan awal John McAtee.
Situasi itu memberi tuan rumah keunggulan awal dalam laga yang mempertemukan dua rival lokal. Bolton lalu memanfaatkan momentum tersebut untuk terus menyerang pertahanan tim tamu.
Pada menit ke-26, McAtee kembali menjadi penghubung serangan Bolton. Umpannya dalam serangan balik diterima Gale, yang melepaskan tembakan melengkung ke sudut gawang Preston.
Keunggulan dua gol membuat Bolton memiliki kendali yang kuat sebelum jeda. Namun, Preston menunjukkan respons lebih baik setelah turun minum dan berusaha mengurangi penguasaan pertandingan dari tim tuan rumah.
| Pencetak Gol | Klub | Menit |
|---|---|---|
| Sam Dalby | Bolton Wanderers | 15′ |
| Thierry Gale | Bolton Wanderers | 26′ |
| Jusef Erabi | Preston North End | 86′ |
Preston Menekan hingga Pengujung Laga
Usaha Preston menemukan hasil ketika Erabi, yang turun sebagai pemain pengganti, mencetak gol lewat sundulan pada menit ke-86. Gol tersebut memangkas jarak dan menempatkan Bolton dalam tekanan pada menit-menit akhir.
Lindsay kemudian mendapatkan peluang penting dari jarak dekat saat pertandingan memasuki injury time. Bola sundulannya tidak mengarah ke gawang, sehingga Preston gagal mengubah hasil derby.
Steven Schumacher menganggap pertandingan itu mencerminkan tuntutan berat EFL Championship. Menurutnya, tim dapat beralih dari posisi mengendalikan laga menjadi berada dalam tekanan hanya dalam waktu singkat.
“Itulah gambaran divisi ini, sangat gila. Dari berada dalam kendali penuh atas permainan, kami mungkin seharusnya bisa unggul lebih jauh dari yang ada,” ujar Schumacher.
Ia menilai Bolton layak menang meski harus bertahan dari peluang terakhir Preston. “Kami senang mereka melewatkan peluang emas di akhir laga sehingga tidak mengambil tiga poin kami, yang saya rasa secara keseluruhan layak kami dapatkan,” katanya.
Awal Bersejarah bagi Bolton
Tiga poin ini memiliki nilai khusus karena menjadi kemenangan pertama Bolton di kasta kedua sepak bola Inggris sejak 2019. Mereka juga menghentikan enam laga liga tanpa kemenangan melawan Preston.
Bolton memimpin klasemen sementara setelah pekan pembuka. Schumacher menyebut pertandingan itu sebagai kesempatan besar karena klubnya kembali berlaga di level tersebut setelah cukup lama.
“Kami tahu ini adalah momen besar bagi kami hari ini. Pertandingan pertama kembali ke level ini setelah sekian lama,” tutur Schumacher. Ia juga menyebut status pertandingan melawan rival lokal serta dukungan penonton tuan rumah membuat tekanannya semakin besar.
Heckingbottom Menyesali Awal Pertandingan
Manajer Preston, Paul Heckingbottom, mengarahkan evaluasinya pada babak pertama. Ia merasa timnya memberi terlalu banyak peluang yang kemudian menghasilkan dua gol Bolton.
“Saya katakan saat turun minum kepada para pemain bahwa saya pikir kami bisa memenangkan pertandingan. Kami tampil buruk di babak pertama dalam hal gol-gol yang kami berikan,” kata Heckingbottom.
Heckingbottom menilai energi Bolton dan atmosfer stadion menyulitkan timnya pada awal laga. Meski demikian, ia melihat beberapa sisi positif dari penampilan para pemain baru Preston.
Hasil tersebut memperpanjang catatan Preston yang belum memenangi laga pembuka liga sejak 2018. Bolton akan melanjutkan musim dengan pertandingan tandang, sementara Preston dijadwalkan berupaya bangkit di kandang.






