Satu pertandingan pada Oktober 2015 mengubah seluruh arah hidup Prichard Colon. Mantan petinju itu kini meninggal dunia pada usia 33 tahun setelah menjalani 11 tahun perjuangan melawan cedera otak parah.
Kabar wafatnya disampaikan sang ayah, Richard Colon, melalui unggahan media sosial pada Kamis. Tidak ada rincian mengenai penyebab kematian yang disampaikan dalam unggahan tersebut.
Colon mengalami cedera serius saat menghadapi Terrel Williams di Virginia, Amerika Serikat. Ketika pertandingan berlangsung, ia baru berusia 23 tahun dan tengah menapaki karier profesional setelah membangun reputasi di Puerto Rico.
Peristiwa yang Berujung Darurat Medis
Pertandingan Colon melawan Williams berakhir dengan diskualifikasi. Situasi itu terjadi setelah muncul kesalahpahaman di sudut tim terkait pelepasan sarung tangan.
Dalam duel tersebut, Williams disebut sempat memukul bagian belakang kepala Colon dan mendapat sanksi dari wasit. Seusai pertandingan, Colon mengeluhkan pusing hebat serta muntah-muntah sebelum kehilangan kesadaran.
Ia lalu dibawa ke rumah sakit untuk menerima pertolongan darurat. Colon menjalani pembedahan guna meredakan pendarahan di otak dan kemudian berada dalam koma selama tujuh bulan.
| Waktu | Peristiwa | Dampak |
|---|---|---|
| Oktober 2015 | Laga di Virginia | Pertandingan melawan Terrel Williams berakhir diskualifikasi. |
| Setelah laga | Gejala berat | Pusing hebat, muntah-muntah, dan tidak sadarkan diri. |
| Sesudah penanganan | Koma | Colon berada dalam koma selama tujuh bulan. |
| 2016 | Hasil investigasi | Regulator Virginia tidak menemukan pelanggaran hukum penyelenggara. |
Investigasi Otoritas Regulasi Profesi dan Pekerjaan Virginia pada 2016 menyatakan penyelenggara pertandingan tidak melakukan pelanggaran hukum. Informasi tersebut dikutip Kompas.com dalam laporannya mengenai perjalanan Colon.
Hasil investigasi tidak mengubah beratnya dampak medis yang harus dijalani Colon sesudah pertandingan itu. Insiden tersebut kemudian menjadi salah satu tragedi yang paling dikenang dalam olahraga tinju.
Perjuangan di Luar Arena
Setelah keluar dari koma, Colon sempat dinyatakan berada dalam kondisi vegetatif permanen. Ia membutuhkan pengawasan penuh selama 24 jam.
Keluarganya terus mendampinginya dalam terapi dan rehabilitasi rutin yang berlangsung bertahun-tahun. Dalam proses itu, Colon menunjukkan kemampuan merespons lewat ekspresi wajah, suara, serta perangkat pelacak mata.
Kondisi tersebut membuat perjalanan Colon mendapat perhatian luas dari komunitas internasional. Dukungan yang diterimanya bertahan selama lebih dari satu dekade, seiring keluarganya berupaya memenuhi kebutuhan perawatannya.
Presiden WBO Gustavo Olivieri menyatakan duka atas kepergian Colon. “Hari ini, WBO dengan khidmat bergabung dengan keluarganya dan semua orang yang memiliki hak istimewa untuk mengenal, mendukung, dan mencintainya dalam berduka atas kepergiannya,” kata Olivieri.
Ia mengenang Colon sebagai sosok yang memiliki keberanian, ketekunan, dan semangat juang besar. Menurut Olivieri, kisah Prichard Colon melampaui ring dan terus memberi makna bagi banyak orang yang menghormatinya.
Wafatnya Colon meninggalkan kesedihan bagi keluarga, rekan, serta penggemar olahraga tinju. Perjuangan panjangnya tetap dikenang sebagai gambaran kasih sayang keluarga dalam menghadapi dampak cedera yang mengubah kehidupan seorang atlet.






