Maverick Vinales dinilai tetap memiliki kemampuan besar, tetapi cedera dan bursa transfer MotoGP 2027 menempatkannya dalam posisi sulit. Pablo Nieto menyebut persoalan pebalap Spanyol itu bukan terletak pada bakatnya, melainkan situasi yang datang pada waktu tidak menguntungkan.
Vinales belum memiliki kepastian mengenai tim yang akan dibelanya pada 2027. Sebagian besar kursi pabrikan dan satelit disebut telah terisi, sementara peluangnya di KTM serta Tech3 semakin tertutup.
“Dia adalah salah satu pebalap paling berbakat yang pernah saya lihat dalam hidup saya, tetapi saya rasa dia kurang beruntung dalam hal cedera,” kata Nieto kepada Mundo Deportivo, seperti dikutip Crash. Nieto mengenal Vinales sejak bekerja sama dengannya ketika sang rider menjadi juara dunia Moto3 2013.
Penilaian tersebut menjadi penting karena Vinales telah membukukan 10 kemenangan di kelas premier. Ia memiliki rekam jejak bersama Suzuki, Yamaha, dan Aprilia, tetapi capaian masa lalu tidak selalu cukup dalam persaingan kontrak yang cepat berubah.
Kursi Tersisa Makin Sedikit
KTM sudah memilih Alex Marquez dan Fabio Di Giannantonio untuk dua kursi tim pabrikan pada 2027. Vinales juga disebut kehilangan kesempatan untuk melanjutkan kiprahnya bersama Tech3.
| Tim | Status Kursi 2027 |
|---|---|
| KTM pabrikan | Telah diisi Alex Marquez dan Fabio Di Giannantonio |
| Tech3 | Peluang Vinales bertahan disebut tidak terbuka |
| Honda pabrikan | Satu kursi masih belum memiliki pemilik |
Satu kursi di tim pabrikan Honda masih belum memiliki pemilik. Namun, Vinales belum mengungkapkan apakah ia akan menempuh peluang balap di luar MotoGP apabila tidak memperoleh tempat untuk musim berikutnya.
Keadaan itu membuat pasar pebalap menjadi tekanan tersendiri bagi Vinales. Banyak keputusan tim sudah diambil sebelum masa depannya mendapatkan kepastian.
Dampak Cedera dan Kritik terhadap Tim
Vinales mengalami cedera bahu pada pertengahan musim lalu. Kondisi fisik itu berpengaruh terhadap awal musim 2026 dan sekaligus menggagalkan rencana kepindahan ke tim pabrikan KTM.
Situasinya kemudian menjadi lebih rumit setelah ia beberapa kali melontarkan kritik kepada KTM dan Tech3. Pebalap tersebut dilaporkan tidak lagi memiliki peluang bergabung dengan KTM pabrikan maupun bertahan di tim satelit itu.
Nieto menilai seorang rider dapat mengalami kejenuhan apabila tidak mendapat hasil, merasa tidak nyaman dengan tim, atau tidak cocok dengan motor yang digunakan. Ia menekankan bahwa penilaian itu bersifat pribadi karena belum banyak membahas persoalan tersebut secara langsung dengan Vinales.
“Dan jika Anda tidak mendapatkan hasil dan Anda merasa tidak nyaman dengan tim atau motornya—dan ini hanya pendapat saya, karena saya belum banyak membahasnya dengannya—seperti yang dia katakan sendiri, dia jelas agak jenuh,” ujar Nieto.
Vinales sendiri saat tampil di GP Jerman hanya menyatakan bahwa dirinya sudah kelelahan menghadapi keadaan tersebut. Kondisi mental dan fisik itu datang bersamaan dengan persaingan kursi yang semakin ketat.
Paddock Menilai Hasil Terkini
Nieto juga menyoroti cara dunia balap menilai pebalap berdasarkan performa terbaru. Menurutnya, absensi karena cedera dapat membuat seorang rider segera tersisih dari pembicaraan di paddock.
“Sayangnya, dalam olahraga ini dan praktis di semua olahraga, apa yang dilihat orang adalah apa yang Anda lakukan di balapan terakhir,” kata Nieto. Peringatan itu menggambarkan risiko yang dihadapi Vinales ketika ia harus berjuang memulihkan performa di tengah minimnya kursi tersedia.
Talenta dan pengalaman Vinales tetap menjadi modal penting dalam menentukan langkah berikutnya. Namun, arah kariernya akan sangat bergantung pada pilihan yang tersisa setelah banyak tim menyelesaikan susunan pebalap untuk 2027.






