Universitas Udayana menjadi salah satu dari 10 perguruan tinggi yang mendapat pendampingan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) untuk menerapkan Toyota Production System atau TPS secara bertahap. Program ini diarahkan untuk mempertemukan pembelajaran di kampus dengan kebutuhan praktik industri otomotif.
Bagi mahasiswa, pendekatan tersebut menekankan kemampuan membaca proses nyata, mengenali akar persoalan, dan menyusun perbaikan berdasarkan fakta. TMMIN menilai kemampuan itu penting untuk menghadapi tuntutan kualitas, produktivitas, serta efisiensi di dunia kerja.
Daftar perguruan tinggi dalam pendampingan
| No. | Perguruan Tinggi | Pendekatan Program |
|---|---|---|
| 1 | Universitas Udayana | Penerapan TPS bertahap |
| 2 | Institut Teknologi Sepuluh Nopember | Penerapan TPS bertahap |
| 3 | Universitas Diponegoro | Penerapan TPS bertahap |
| 4 | Universitas Gadjah Mada | Penerapan TPS bertahap |
| 5 | Universitas Syiah Kuala | Penerapan TPS bertahap |
| 6 | Institut Teknologi Bandung | Penerapan TPS bertahap |
| 7 | Universitas Sebelas Maret | Penerapan TPS bertahap |
| 8 | Universitas Hasanuddin | Penerapan TPS bertahap |
| 9 | Universitas Darma Persada | Penerapan TPS bertahap |
| 10 | Universitas Indonesia | Penerapan TPS bertahap |
Kolaborasi tersebut dimaksudkan untuk membantu perguruan tinggi menyiapkan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi kebutuhan industri. Universitas Udayana menjalankan bagian dari program itu melalui aktivitas di Fakultas Teknik.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto memberikan kuliah umum kepada sivitas akademika, terutama mahasiswa Teknik Industri, pada Kamis (23/7). Ia juga meninjau Lean Manufacturing Laboratory dan berdiskusi dengan dosen serta mahasiswa mengenai penerapan TPS dalam pembelajaran.
TPS sebagai cara berpikir
Nandi menjelaskan TPS bukan hanya sistem produksi yang lahir dari Toyota. TPS juga merupakan cara berpikir dan cara bekerja yang mendorong seseorang tidak berhenti pada penyelesaian masalah di permukaan.
“Melalui TPS, setiap orang didorong untuk tidak berhenti pada penyelesaian masalah di permukaan, tetapi berani mencari akar persoalannya, mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan terus melakukan perbaikan,” kata Nandi Julyanto. Ia menyebut kemajuan berkelanjutan dapat dimulai dari langkah kecil yang dijalankan secara konsisten.
Dalam pembelajaran, penerapan TPS memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengamati proses apa adanya. Mahasiswa kemudian diarahkan memahami alasan sebuah masalah terjadi sebelum menentukan solusi.
“Di lapangan, mereka tidak hanya mempelajari TPS sebagai teori, tetapi belajar melihat proses apa adanya, memahami mengapa sebuah persoalan bisa terjadi, lalu mencari solusi berdasarkan fakta,” ujar Nandi. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan pola pikir kritis, rasa ingin tahu, dan keberanian memperbaiki proses.
Genba dan perbaikan berkelanjutan
Salah satu konsep yang dibahas dalam kunjungan laboratorium ialah Genba, yang berarti “tempat sebenarnya” atau lokasi proses berlangsung. Konsep ini mendorong pemahaman masalah secara langsung di lokasi agar keputusan tidak bertumpu pada asumsi.
Genba berhubungan dengan Kaizen, yaitu semangat melakukan perbaikan proses secara terus-menerus lewat langkah kecil yang konsisten. Pendekatan ini dipakai untuk mendukung kualitas, produktivitas, dan efisiensi dalam proses kerja Toyota.
Nandi juga menyoroti prinsip Bad News First dalam budaya kerja Toyota. Prinsip itu menekankan keberanian menyampaikan persoalan sejak awal agar solusi dapat lebih cepat dirumuskan dan diterapkan.
Selain kepemimpinan, ia memaparkan nilai integritas, visioner, menghargai, kepemilikan, inovatif, dan kerja sama. TMMIN menilai nilai-nilai tersebut relevan tidak hanya untuk manufaktur, melainkan juga bagi mahasiswa saat menghadapi tantangan sehari-hari dan dunia profesional.






