Misi Memen Harianto membawa hasil podium untuk Indonesia di AXCR 2026 berakhir akibat masalah pada kendaraan di fase paling krusial. Toyota Hilux Revo yang digunakan pereli tersebut mengalami overheating sekitar 25 kilometer sebelum flying finish Leg 6.
Gangguan itu muncul ketika Memen masih berada dalam persaingan kuat di kelas T1G. Hingga akhir Leg 5, ia tercatat sebagai pemimpin kelas sekaligus menduduki posisi ke-11 klasemen keseluruhan.
Kegagalan menuntaskan reli menjadi pukulan bagi tim yang telah bekerja sejak persiapan hingga pelaksanaan di Thailand. Memen juga menyebut dukungan dari keluarga, mekanik, partner, sponsor, komunitas, media, dan masyarakat Indonesia sebagai bagian penting dari perjuangannya.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang berharap Merah Putih dapat kembali berada di podium. Target yang dibawa kali ini terbilang besar setelah keberhasilan pada ajang yang sama pada tahun sebelumnya.
Meski sangat kecewa, Memen menegaskan tidak ingin berhenti akibat hasil tersebut. Ia berencana melakukan evaluasi teknis untuk menyiapkan langkah pada kompetisi berikutnya.
“Saya sangat kecewa, tentu. Tetapi saya tidak mau berhenti di sini,” tegas Memen. Pernyataan itu menandai tekadnya untuk kembali berjuang setelah peluang gelar di AXCR 2026 hilang.
Posisi Kompetitif Sebelum Leg Terakhir
Memen dan Indonesia Cross Country Rally Team memulai kepemimpinan di kelas T1G sejak Leg 3. Konsistensi itu masih terjaga sampai Leg 5, sehingga peluang mempertahankan posisi pertama tetap terbuka menjelang leg penentu.
| Tahap Reli | Catatan Perjalanan |
|---|---|
| Leg 3 | Memen mulai memimpin kelas T1G |
| Leg 5 | Peringkat ke-11 keseluruhan dan pemimpin T1G |
| Leg 6 | Overheating 25 km sebelum flying finish |
Posisi ke-11 secara keseluruhan sekaligus nomor satu T1G membuat hasil hingga Leg 5 menjadi modal penting. Namun, keunggulan itu belum cukup karena reli baru dinyatakan tuntas setelah kendaraan benar-benar melewati garis akhir.
Dalam rilis yang dikutip detikSport, Memen mengakui beratnya menerima perubahan keadaan tersebut. Ia mengatakan tim memiliki keyakinan untuk menjaga posisi yang sudah diperoleh sejak Leg 3.
“Jujur, ini sangat berat buat saya. Sampai Leg 5 kami masih berada di posisi 11 overall dan nomor satu di T1G,” ujar Memen.
Menurutnya, situasi berubah saat Leg 6 karena mobil mengalami overheating ketika jarak menuju flying finish tinggal sekitar 25 kilometer. Tim telah mencoba melanjutkan perjuangan, tetapi kondisi kendaraan tidak mendukung target penyelesaian yang diharapkan.
“Sayangnya, pada Leg 6 mobil mengalami overheating, sekitar 25 kilometer sebelum flying finish. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kondisi mobil tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjuangan seperti yang kami harapkan,” katanya.
Reli Menguji Lebih dari Kecepatan
Persoalan Memen menunjukkan bahwa hasil reli lintas alam ditentukan oleh banyak variabel. Ketahanan mesin, kondisi mobil, navigasi, medan, cuaca, dan keberuntungan dapat memengaruhi hasil dalam setiap tahap perlombaan.
Kecepatan pengemudi tetap penting, tetapi faktor kendaraan menjadi penopang yang tidak terpisahkan dari usaha mengejar klasemen. Masalah teknis yang datang di akhir perlombaan dapat menghapus peluang yang dibangun melalui konsistensi pada leg-leg sebelumnya.
Memen memandang risiko tersebut sebagai bagian dari motorsport. Persiapan yang maksimal, menurutnya, tidak sepenuhnya mampu menutup kemungkinan munculnya kondisi di luar kendali saat berada di lintasan.
“Ini bagian dari motorsport. Kita bisa menyiapkan semuanya sebaik mungkin, tetapi di lintasan selalu ada hal-hal yang berada di luar kendali kita,” kata Memen.
Evaluasi terhadap Toyota Hilux Revo kini menjadi perhatian untuk perjalanan berikutnya. Memen berterima kasih kepada sponsor dan partner atas kepercayaan yang diberikan, serta berjanji belajar dari kegagalan untuk kembali membawa perjuangan Indonesia ke lintasan reli.






