Thiago Agustin Tirante membalikkan keadaan setelah tertinggal 2-6 pada set pertama untuk menundukkan Novak Djokovic di Cincinnati Open. Petenis Argentina berusia 25 tahun itu memenangi dua set berikutnya 6-4, 6-4 dalam laga hampir tiga jam.
Kebangkitan Tirante terjadi di P&G Center Court pada Sabtu dalam pertemuan resmi pertama kedua pemain. Ia mampu mempertahankan ketenangan ketika pertandingan memasuki fase menentukan.
Djokovic sempat tampil meyakinkan pada set pembuka. Tirante kemudian mengubah jalannya laga melalui kemenangan ketat di set kedua dan set ketiga.
Hasil itu menjadi kemenangan profesional terbesar bagi Tirante. “Ini akan menjadi salah satu hari yang akan saya ingat sepanjang hidup saya,” kata Tirante.
Menghadapi Reputasi Lawan
Djokovic datang ke pertandingan sebagai pemegang 24 gelar Grand Slam dan salah satu pemain paling berpengalaman di tur. Tirante menyadari besarnya tantangan, tetapi memilih fokus pada kebutuhan untuk memenangkan setiap poin.
“Saya pikir saya melakukan pekerjaan yang sangat baik di dalam lapangan. Saya mengelolanya dengan sangat baik, mengendalikan rasa gugup dan bermain melawan seorang legenda seperti Novak,” ujar Tirante.
Ia mengatakan keyakinan diri membantunya memisahkan pencapaian lawan dari rencana permainannya sendiri. Pendekatan itu membuat Tirante dapat tampil lebih lepas di stadion berkapasitas besar.
“Saya percaya pada diri sendiri. Saya pikir saya bisa memisahkan apa yang mereka lakukan untuk olahraga ini dan apa yang harus saya lakukan untuk memenangkan pertandingan itu,” tutur Tirante.
Rangkaian Kemenangan yang Putus
Kekalahan di tangan Tirante mengakhiri catatan 22 kemenangan beruntun Djokovic atas petenis Argentina. Tirante menjadi pemain Argentina keempat yang pernah mengalahkan Djokovic.
Ia kini sejajar dengan Guillermo Coria, David Nalbandian, dan Juan Martin del Potro. Namun, kemenangan di Cincinnati terasa khusus karena Tirante langsung mengalahkan Djokovic dalam duel resmi perdana mereka.
Hasil tersebut hadir di tengah musim 2026 yang memberi perkembangan penting bagi Tirante. Ia telah menembus peringkat 50 dunia setelah membukukan 24 kemenangan di level tur.
Performa Tirante melawan pemain elite juga memperkuat arti kemenangannya di Cincinnati. Ia kini mencatatkan empat kemenangan dari lima pertandingan melawan petenis peringkat 10 besar dunia.
Rekor itu menunjukkan bahwa Tirante tidak hanya mengandalkan satu penampilan mengejutkan. Ia telah mengumpulkan hasil kuat dalam pertandingan melawan lawan dengan peringkat tinggi.
Jejak Pengalaman dan Dukungan Keluarga
Sebelum akhirnya bertemu Djokovic dalam laga kompetitif, Tirante pernah menjadi lawan latihan Roger Federer dan Rafael Nadal. Pengalaman tersebut diperolehnya di Nitto ATP Finals 2019.
Meski pernah berada di lapangan bersama Federer dan Nadal, pertandingan melawan Djokovic tetap memberi kesan besar. Tirante menyebut kesempatan itu sebagai sebuah hak istimewa karena intensitas pertandingan dan suasana penonton.
“Saya pikir sebuah hak istimewa bisa berbagi lapangan dengan Novak, pertandingan hampir tiga jam dengan intensitas yang begitu tinggi,” kata Tirante. Ia juga menilai respons publik di stadion menjadi bagian yang paling dinikmatinya.
Setelah kemenangan tersebut, Tirante memikirkan keluarga serta teman-temannya di Argentina yang menyaksikan pertandingan melalui televisi. Ia berencana menghubungi ayah, kakek, dan ibunya setelah pertandingan.
“Saya bermain tenis untuk momen seperti ini,” ucap Tirante. Kemenangan itu menjadi pencapaian pribadi sekaligus peristiwa yang ingin ia bagikan kepada keluarga di tanah air.
Tirante memiliki tato kalimat motivasi di dada sejak berusia 14 atau 15 tahun. Baginya, pesan tersebut terus menjadi pengingat yang melekat dalam tubuh dan pikirannya sepanjang karier.






