Menari bersama kelompok tidak hanya mengajak seseorang bergerak mengikuti musik. Aktivitas ini juga menjaga keterlibatan sosial, sementara hubungan dengan orang lain dinilai dapat membantu melindungi dari penurunan kognitif.
Manfaat tersebut menjadi penting karena kegiatan yang menyenangkan cenderung lebih mudah dipertahankan. Rutinitas aktif yang konsisten dapat menjadi tantangan dalam banyak jenis olahraga, sehingga pilihan aktivitas yang disukai memiliki nilai tersendiri.
Otak Bekerja di Banyak Arah
Saat menari, seseorang perlu memproses irama, mengingat langkah, mengatur koordinasi motorik, serta menyesuaikan diri dengan perubahan gerakan. Perhatian dan kemampuan membaca situasi sosial juga dapat ikut terlibat, terutama ketika tari dilakukan bersama orang lain.
Lisa Mosconi dari Women’s Brain Initiative dan Alzheimer’s Prevention Program di Weill Cornell Medicine menyebut tari dapat menantang memori, perhatian, fungsi eksekutif, koordinasi motorik, dan kognisi sosial secara serentak. David Leventhal, pendiri Dance for PD, juga menyoroti banyaknya sistem tubuh dan indera yang bekerja saat seseorang menari.
Tantangan bertambah ketika peserta harus mempelajari urutan koreografi yang baru. Mereka perlu berpindah arah, menyesuaikan gerak dengan ritme, lalu kembali ke urutan yang tepat ketika melakukan kesalahan.
Menurut Mosconi, unsur pembelajaran membedakan pengalaman tersebut dari olahraga yang hanya mengandalkan gerak berulang. “Gerakan baru bukan sekadar olahraga. Ini adalah olahraga ditambah pembelajaran,” ujar Mosconi.
Hasil Kajian Terapi Tari
Sebuah meta-analisis yang dikutip Kompas.com dari Harper’s Bazaar menelaah 10 penelitian dengan hampir 1.000 peserta. Kajian itu mengaitkan terapi tari dengan peningkatan fungsi kognitif secara umum.
Penelitian tersebut juga melaporkan kaitan dengan perbaikan fungsi eksekutif dan bahasa. Perbaikan gejala depresi serta beberapa gejala neuropsikiatri turut dicatat dalam rangkuman hasil kajian.
| Aspek | Hasil yang dilaporkan |
|---|---|
| Studi yang dianalisis | 10 penelitian |
| Jumlah peserta | Hampir 1.000 peserta |
| Fungsi kognitif | Peningkatan secara keseluruhan |
| Area lain | Fungsi eksekutif, bahasa, depresi, dan gejala neuropsikiatri |
Data tersebut tidak berarti menari menjadi jawaban tunggal untuk mencegah demensia. Aktivitas ini dapat dipertimbangkan sebagai pelengkap kebiasaan yang lebih luas untuk mendukung kesehatan otak.
Keluar dari Pola Gerak Harian
Penari sekaligus koreografer Angela Trimbur mengaitkan proses mempelajari gerakan baru dengan neuroplastisitas. Neuroplastisitas merupakan kemampuan otak untuk beradaptasi dan membangun koneksi baru melalui pengalaman.
Arah, bentuk, serta ritme yang tidak biasa dapat membawa tubuh keluar dari pola gerak sehari-hari. Hal tersebut membuat kegiatan menari tidak hanya mengandalkan aktivitas fisik, tetapi juga proses belajar yang berkelanjutan.
Trimbur menggambarkan tuntutan kognitif dalam pembelajaran koreografi sebagai pekerjaan banyak fungsi sekaligus. “Ketika kita belajar koreografi, kita meminta otak untuk melakukan begitu banyak hal sekaligus: mengingat urutan gerakan, memproses musik, mengoordinasikan gerakan, beradaptasi ketika kita membuat kesalahan, dan tetap fokus pada orang lain di ruangan,” kata Trimbur.
Ia juga menekankan pentingnya terus belajar saat usia bertambah. “Orang-orang yang tampak paling bersemangat seiring bertambahnya usia tidak hanya terus berolahraga. Mereka terus belajar. Mereka terus hidup dalam kejutan,” ujarnya.
Menari Sebagai Pelengkap
Pelatih kesehatan otak di Pacific Neuroscience Institute, Ryan Glatt, menganjurkan aktivitas fisik yang beragam. Latihan kekuatan, yoga, tenis meja, serta olahraga aerobik lain dapat dipadukan dengan kegiatan tari.
Seseorang tidak perlu menjadi penari profesional untuk memperoleh tantangan dari aktivitas ini. Mengikuti kelas secara rutin, mencoba koreografi baru, atau memilih jenis tari yang belum pernah dipelajari dapat menjadi langkah awal yang sesuai.
Mosconi menyarankan kebiasaan pendukung kesehatan otak tidak menunggu hingga usia lanjut. Ia menyoroti masa transisi menopause sebagai waktu penting bagi perempuan untuk mulai membangun kebiasaan tersebut.






