Kamar hotel, area bandara, hingga ruang di rumah menjadi tempat yang dimanfaatkan Restu Metriardi untuk tetap berlari. Berbagai penyesuaian itu dilakukan agar kebiasaan lari hariannya tidak terputus, termasuk saat menunaikan ibadah haji pada 2025.
Selama 42 hari dalam perjalanan haji, Restu tetap mencari kesempatan untuk menjalankan lari minimal. Hingga Jumat, 14 Agustus 2026, rangkaian tersebut telah mencapai hari ke-1.953.
Rutinitas yang Menyesuaikan Perjalanan
Ketika menempuh perjalanan Jakarta-Istanbul, Restu berlari bolak-balik di kamar hotel. Ia mengambil pilihan tersebut karena kondisi perjalanan tidak memungkinkan sesi lari seperti rutinitas pada hari biasa.
Kesempatan lain datang saat ia berada di Bandara Internasional Dubai. Restu memanfaatkan area bandara untuk berlari dan meneruskan catatan hariannya.
Setelah pulang dari haji, ia juga masih menyempatkan lari di dalam rumah meski tiba sekitar pukul 23.00. Penyesuaian itu memperlihatkan bahwa sasaran utamanya adalah menjaga kebiasaan, bukan memaksakan latihan dengan beban tinggi.
| Peristiwa | Lokasi | Bentuk Penyesuaian |
|---|---|---|
| Rangkaian haji 2025 | Selama perjalanan | Mencari waktu lari setiap hari selama 42 hari |
| Perjalanan Jakarta-Istanbul | Kamar hotel | Berlari bolak-balik |
| Perjalanan udara | Bandara Internasional Dubai | Memanfaatkan area bandara |
| Kepulangan dari haji | Rumah | Lari di dalam ruangan sekitar pukul 23.00 |
Restu juga pernah menjaga kebiasaan berlari pada hari pernikahan anak keduanya. Namun, ia menekankan bahwa kondisi tubuh tetap menjadi pertimbangan saat menentukan bentuk aktivitas.
Tidak Mengejar Jarak dan Kecepatan
Pada usia 63 tahun, Restu menggunakan denyut jantung atau heart rate untuk memandu aktivitasnya. Ia menilai sinyal tubuh penting untuk menentukan pace, jarak, waktu berjalan, hingga keputusan berhenti.
“Dengan dua acuan tersebut maka saya akan menentukan di pace dan jarak berapa saya berlari, atau jalan, berhenti. Hal ini sangat penting untuk menghindari risiko cedera,” kata Restu.
Ia memilih mengurangi intensitas ketika situasi tidak mendukung. Baginya, menjaga konsistensi tidak dapat disamakan dengan memaksa tubuh melampaui kemampuan.
Berawal pada Ramadhan 2021
Catatan runstreak Restu dimulai dari tantangan pribadi untuk berlari 30 hari selama Ramadhan 2021. Tantangan itu kemudian diperpanjang menjadi tiga bulan, lalu berkembang menjadi target 360 hari.
Setelah menjalani periode tersebut, Restu merasa sulit untuk menghentikan kebiasaan yang sudah terbentuk. Ia mengenal standar runstreak internasional berupa lari minimal 1 mil atau sekitar 1,6 kilometer setiap hari.
Standar tersebut membuatnya memahami bahwa lari harian tidak selalu harus panjang maupun cepat. Godaan untuk berhenti paling kuat ia rasakan pada tahun pertama, sebelum rutinitas itu menjadi semakin mantap.
Perubahan Kebiasaan Sejak Rawat Inap
Sebelum rutin berlari, Restu mengaku memiliki daya tahan tubuh yang lemah dan mudah sakit. Ia pernah mengalami gangguan saluran pencernaan hingga tiga kali rawat inap serta saraf kejepit sejak usia 35 tahun.
Selepas rawat inap pada akhir 2016, ia memulai kebiasaan berjalan cepat setelah shalat Subuh. Ia kemudian belajar berlari pada September 2017 sebagai bagian dari perubahan gaya hidup.
Restu merasakan kondisi tubuhnya membaik, walau ia tidak mengaitkannya hanya dengan olahraga lari. Pola makan dan waktu tidur juga diperhatikannya dalam upaya menjaga kebugaran.
Sebagian besar lari dilakukan seorang diri dan menjadi waktu untuk refleksi. Ia berencana melanjutkan rutinitas tersebut selama kesehatan, usia, dan motivasi masih memungkinkan.






