Generasi yang hidup dalam sekitar 20 tahun terakhir tercatat terlihat lebih muda dibandingkan pendahulunya dalam sebuah penelitian pada 2018. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa foto remaja dari masa lalu sering tampak lebih dewasa ketika dilihat saat ini.
Perbedaan itu tidak hanya berkaitan dengan kamera atau kualitas arsip lama. Perubahan kebiasaan kesehatan dan perawatan diri disebut ikut memengaruhi penampilan fisik antargenerasi.
Kesehatan dan perawatan mengubah tampilan
Peneliti dari Yale School of Medicine dan University of South Carolina membandingkan kelompok orang yang hidup dalam rentang 1988 hingga 2010. Kajian tersebut menelaah perubahan usia biologis selama dua dekade.
Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan tampilan fisik di antara kelompok waktu yang dibandingkan. Kelompok yang hidup lebih baru tercatat terlihat lebih muda daripada generasi sebelumnya.
Perubahan gaya hidup menjadi salah satu penjelasan yang dikaitkan dengan hasil itu. Meningkatnya teknologi kesehatan juga mendorong perhatian yang lebih besar terhadap kondisi tubuh dan tampilan.
Informasi tentang risiko merokok dapat membuat sebagian orang mengurangi konsumsi rokok. Kebiasaan tersebut berpotensi berpengaruh terhadap penampilan fisik yang terlihat lebih muda.
Produk perawatan kulit kini hadir dalam pilihan yang lebih beragam dan mudah dicari. Kehadirannya membuat lebih banyak orang dapat merawat kulit untuk mempertahankan tampilan yang dianggap muda.
| Faktor | Perubahan yang Disebutkan | Dampak pada Persepsi |
|---|---|---|
| Gaya hidup | Pengurangan konsumsi rokok | Berpotensi mendukung tampilan lebih muda |
| Perawatan kulit | Produk semakin beragam dan mudah ditemukan | Mendukung perawatan penampilan |
| Mode | Rambut, kumis, dan busana berubah | Mengubah kesan usia dalam foto |
Foto lama membawa penanda zamannya
Meski demikian, penelitian mengenai usia biologis tidak berarti semua remaja masa lalu benar-benar menua lebih cepat. Gaya visual yang berlaku pada suatu periode juga sangat menentukan kesan usia seseorang.
Foto siswa SMP era terdahulu menampilkan rambut agak gondrong, poni meninggi, kumis, dan celana ketat. Unsur-unsur itu kini terasa tidak lazim bagi anak berusia sekitar 12 hingga 15 tahun.
Pada 1970-an hingga 1980-an, penampilan yang mengingatkan pada Elvis Presley maupun gaya ala Rhoma Irama pernah menjadi arus budaya. Remaja yang mengikutinya tidak otomatis dipandang lebih tua oleh orang-orang sezamannya.
Kontras baru terasa ketika foto tersebut dilihat kembali oleh generasi digital. Remaja saat ini lebih akrab dengan rambut modern, perawatan kulit, serta aturan sekolah yang membatasi rambut panjang dan bulu wajah.
Bias saat membaca arsip visual
CNBC Indonesia mengutip penjelasan Michael Stevens dari Vsauce yang mengaitkan fenomena itu dengan bias seleksi. Masa lalu dapat terlihat ganjil ketika dinilai memakai standar penampilan yang berkembang pada masa kini.
Rambut gondrong dan kumis mungkin dianggap ciri kedewasaan oleh penonton modern. Namun, kedua unsur itu pernah menjadi bagian dari gaya remaja yang umum pada zamannya.
Tren masa kini juga tidak lepas dari kemungkinan mengalami perubahan makna. Gaya yang tersebar lewat influencer media sosial saat ini dapat dianggap ketinggalan zaman oleh generasi mendatang.
Karena itu, wajah remaja dalam foto lama perlu dibaca sebagai gabungan antara kondisi fisik, mode, dan kebiasaan hidup. Penampilan muda atau tua tidak dapat ditentukan hanya melalui kumis, rambut, maupun pakaian.






