Gawai dapat menjadi ruang perjuangan baru bagi Gen Z untuk memberi manfaat di lingkungan sekitarnya. Namun, potensi tersebut akan sulit terwujud bila pikiran dan waktu habis mengikuti arus yang dibentuk algoritma.
Anak muda dapat menggunakan perangkat digital untuk mengangkat potensi lokal, menyuarakan isu sosial, dan membantu meluruskan hoaks. Pemakaian yang bertanggung jawab juga dapat membuka diskusi sehat serta mendorong perubahan yang bermanfaat.
Ruang digital memberi kesempatan besar untuk menyampaikan ide dan menghasilkan karya. Di saat yang sama, setiap unggahan, komentar, maupun pesan yang dibagikan kepada publik memiliki konsekuensi sosial.
Kreator konten asal Blitar, Tris Kamila, menekankan perlunya mempertimbangkan nilai karya sebelum menekan tombol publikasi. Menurut perempuan 25 tahun yang aktif berkarya sejak 2022 itu, konten dapat membangun percakapan sehat ataupun memicu perpecahan.
“Sebelum menekan tombol publish, penting untuk berefleksi: apakah konten ini memberikan nilai atau sekadar memicu perpecahan?” imbuh Kamila yang akrab disapa Kamilaros. Pertanyaan itu menjadi pengingat bahwa kreativitas perlu disertai tanggung jawab sosial.
Waktu dan Pikiran yang Diperebutkan
Di balik peluang berkarya, media sosial menghadirkan tren dan potongan kehidupan orang lain hampir tanpa jeda. Paparan melalui layar ponsel dapat membuat anak muda merasa harus mengikuti ritme tertentu untuk dianggap berhasil.
Algoritma media sosial dapat menyodorkan konten berulang mengenai pencapaian, penampilan, hingga gaya hidup. Situasi ini berpotensi memicu perbandingan sosial dan membuat seseorang merasa tertinggal dari gambaran yang terlihat di layar.
Kamila melihat otonomi atas pikiran dan waktu sebagai bentuk kemerdekaan yang paling dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. “Merdeka yang paling jujur buat anak muda hari ini adalah otonomi atas pikiran dan waktu kita sendiri,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebebasan bukan hanya kesempatan untuk melakukan banyak hal. Kebebasan juga mencakup kemampuan memilih arah hidup secara sadar di tengah banyaknya pengaruh digital.
Menetapkan Prioritas di Tengah Notifikasi
Tanpa pengaturan prioritas, waktu dapat habis untuk merespons notifikasi dan mengejar tren. Dorongan untuk selalu terlihat produktif juga dapat membuat seseorang kehilangan ruang untuk menentukan ritme hidupnya sendiri.
Karena itu, Gen Z perlu memilih konten, tren, serta pandangan yang layak diikuti. Kemampuan meninggalkan hal-hal yang menambah tekanan menjadi bagian dari upaya menjaga kendali atas diri.
Kamila menilai Gen Z masih berada dalam proses memperjuangkan kemerdekaan mental. Generasi ini dinilai lebih berani mendobrak stigma dan semakin terbuka saat membicarakan kesehatan mental.
Keterbukaan itu dapat menjadi langkah untuk mengenali tekanan yang dirasakan sehari-hari. Meski begitu, overthinking, hustle culture, dan perbandingan sosial tetap menjadi tantangan yang dihadapi anak muda.
Menjaga batas antara ambisi pribadi dan ekspektasi dari ruang digital menjadi kebutuhan penting. Batas tersebut membantu seseorang tidak menjadikan ukuran sukses yang muncul di layar sebagai satu-satunya penentu nilai diri.
Nasionalisme dalam Aktivitas Digital
Kontribusi melalui gawai dapat menjadi bentuk nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan itu tidak harus selalu besar, tetapi dapat dimulai dari karya dan percakapan yang memberi manfaat.
Penggunaan teknologi secara sadar membuat kebebasan digital memiliki arah yang lebih jelas. Kemerdekaan Gen Z akhirnya bertumpu pada kemampuan mengatur waktu, menjaga pikiran, dan menyadari dampak sosial dari setiap tindakan di ruang digital.






