Bukan Hanya Bidik Negara Baru, Bougainville Punya Adat Warisan Tanah untuk Perempuan

Hak atas tanah warisan di Bougainville ditelusuri melalui garis keturunan perempuan. Sistem matrilineal itu menjadi salah satu ciri kuat wilayah otonom Papua Nugini yang kini menargetkan kemerdekaan pada 2030.

Perempuan memegang peran penting dalam urusan tanah, keluarga, dan klan masyarakat setempat. Karakter tersebut memberi konteks sosial yang khas ketika Bougainville memasuki tahapan politik menuju pemerintahan mandiri.

Kemiripan dengan Minangkabau

Tradisi di Bougainville memiliki kemiripan dengan pola kekerabatan masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat. Dalam adat Minangkabau, harta warisan seperti sawah dan rumah diwariskan kepada anak perempuan.

Anak-anak dalam masyarakat Minangkabau menggunakan nama keluarga ibu. Pria juga dipandang sebagai tamu di rumah istrinya, sehingga kedudukan perempuan dalam garis keturunan menjadi unsur penting dalam kehidupan adat.

Kesamaan tersebut membuat Bougainville tidak hanya relevan karena perkembangan politiknya. Kepulauan ini juga memperlihatkan pola sosial yang menempatkan perempuan sebagai penjaga kesinambungan keluarga dan hak waris.

Target Deklarasi pada 2030

Bougainville menargetkan deklarasi kemerdekaan pada 1 September 2030. Target itu direkomendasikan oleh Forum Konsultasi Pemimpin Kemerdekaan Bougainville pada 25 Juli 2026.

Presiden Bougainville Ishmael Toroama menyatakan proses menuju pemerintahan mandiri dan kemerdekaan merujuk pada Bougainville Peace Agreement. Bagian XIV Konstitusi Papua Nugini dan sejumlah kesepakatan setelah referendum 2019 juga menjadi acuan.

WaktuPerkembanganPosisi dalam Proses
2019Referendum BougainvilleSalah satu dasar kesepakatan menuju kemerdekaan
25 Juli 2026Forum pemimpin kemerdekaanMemberi rekomendasi tanggal deklarasi
1 September 2030Target deklarasiMenjadi sasaran politik Bougainville

Mulai tahun depan, Bougainville disebut memasuki fase pemerintahan mandiri. Jika deklarasi terwujud sesuai target, wilayah itu akan menjadi negara baru yang bertetangga dengan Indonesia.

Ritual Upe bagi Pemuda

Selain sistem matrilineal, Bougainville memiliki topi Upe sebagai simbol budaya yang tampil pada bendera dan lambangnya. Upe merupakan anyaman berbentuk silinder yang digunakan pemuda saat mengikuti ritual sakral menuju kedewasaan.

Dalam ritual tersebut, para pemuda tinggal di hutan selama berbulan-bulan dan menjalani berbagai proses. Aturan adat melarang perempuan melihat pemuda selama mereka mengenakan Upe.

Pulau, Gunung, dan Festival

Bougainville adalah wilayah kepulauan yang meliputi Pulau Bougainville, Pulau Buka, sejumlah pulau kecil, serta atol. Populasinya sekitar 367.093 orang dan mayoritas penduduknya berasal dari kelompok Melanesia, menurut data yang dikutip CNBC Indonesia dari DetikTravel.

Nama Bougainville berasal dari Louis-Antoine de Bougainville, pelaut dan navigator Prancis yang memimpin ekspedisi keliling dunia pada 1766 hingga 1769. Ekspedisinya melintasi Pasifik dan mencapai kawasan sekitar New Guinea.

Selat Buka, lokasi Kecelakaan Admiral Yamamoto, Gunung Balbi, Gunung Bagana, dan Festival Mona menjadi bagian dari daya tarik lokal. Identitas kepulauan, ritual adat, serta peran perempuan dalam garis keturunan berjalan berdampingan dengan agenda politik menuju 2030.

Baca Juga